
Ilustrasi orang yang overthinking dan cemas.
JawaPos.com - Setiap orang mengalami peristiwa atau kejadian di masa kecil yang berbeda, ada yang bahagia dan juga menyedihkan hingga menimbulkan trauma saat dewasa.
Mengutip dari laman CLSD Psikologi UGM pada Rabu (26/03) Munadira dalam tulisannya “Trauma Masa Kecil dan Inner Child yang Terbawa hingga Dewasa” menuliskan bahwa luka di masa kecil masih ada di alam bawah sadar sehingga bermanifestasi dalam bentuk perilaku dan emosi negatif, contohnya perasaan tidak dicintai oleh orang lain, tidak percaya diri, cemas, atau ingin mendominasi orang lain.
Dilansir dari laman Small Biz Technology pada Rabu (26/03) orang yang secara konsisten merasa overthinking dan cemas, sering kali mengalami 7 kejadian ini di masa kecil :
1. Tumbuh di lingkungan yang tidak dapat diprediksi
Beberapa rumah tangga merasa seperti roller coaster dari hari ke hari. Mungkin suasana hati orang tua berayun liar, atau ketidakstabilan keuangan membuat semua orang gelisah.
Ketika kita masih kecil, akan mendambakan konsistensi karena itu bisa membentuk rasa aman. Jika lingkungan kita dapat diprediksi, kita mungkin belajar untuk memindai tanda-tanda bahaya atau konflik.
Kebiasaan itu dapat tetap bersama kita, berubah menjadi pemikiran berlebihan yang banyak dari kita hadapi di kemudian hari.
2. Memiliki orang tua yang terlalu kritis atau mengendalikan
Beberapa orang tua memiliki standar tinggi yang dapat menginspirasi. Tetapi jika mereka terus-menerus menunjukkan kekurangan, memperbaiki setiap gerakan, atau memiliki serangkaian harapan yang kaku, kamu mungkin telah menginternalisasi gagasan bahwa tidak pernah cukup baik.
Sehingga hal ini dapat mengakibatkan keraguan diri yang berlebihan. Bahkan kesalahan yang tidak berbahaya mungkin terasa seperti bukti bahwa kamu telah gagal, membuat memutar ulang percakapan, atau keputusan lama setelah selesai.
Kritik yang konsisten selama tahun-tahun formatif dapat melahirkan suara batin yang selalu keras. Seiring waktu, mudah untuk mempertanyakan setiap detail hidupmu karena Anda takut tidak akan pernah mencapai standar yang mustahil.
3. Kurangnya validasi emosional
Ketika perasaan anak-anak diabaikan seperti diberitahu "berhenti menangis" atau "kamu terlalu sensitif" mereka belajar bahwa tidak aman untuk mengungkapkan sesuatu yang terjadi di dalam.
Sebagai orang dewasa, pengkondisian yang sama dapat memicu pemikiran yang berlebihan. Hingga pada akhirnya terjebak di kepala, menganalisis setiap emosi daripada secara terbuka mengalaminya, karena kamu tidak pernah diajarkan bahwa perasaan diri sendiri itu valid.
4. Hidup dengan rasa takut akan kegagalan

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
