
Ilustrasi. (pexels.com)
JawaPos.com - Di era digital seperti sekarang, media sosial bukan sekadar tempat berbagi momen atau pendapat. Banyak orang justru menggunakannya untuk mencari validasi secara online.
Sayangnya, kebiasaan ini sering kali membuat mereka merasa kesepian di dunia nyata. Semakin sibuk mengejar perhatian di internet, semakin sulit merasakan koneksi yang nyata dengan orang-orang di sekitar.
Dilansir dari laman News Reports pada Kamis (6/3), jika kamu merasa media sosial lebih memberikan kepuasan dibanding interaksi langsung, bisa jadi kamu tanpa sadar terjebak dalam kebiasaan berikut ini.
1. Selalu Mengkhawatirkan Like dan Komentar
Awalnya cuma iseng cek notifikasi. Tapi lama-lama, kamu mulai mengecek ponsel setiap beberapa menit, memastikan ada like atau komentar baru. Jika tidak ada, muncul rasa gelisah dan ingin segera memposting sesuatu yang lebih menarik.
Orang yang mencari validasi secara online sering kali mengaitkan harga diri dengan jumlah interaksi yang didapat. Padahal, kepuasan dari notifikasi ini hanya sesaat. Ketika layar ponsel dimatikan, rasa kosong kembali muncul, dan interaksi di dunia nyata terasa membosankan dibanding umpan balik instan dari media sosial.
2. Terlalu Banyak Mengedit dan Memberi Filter Sebelum Memposting
Punya foto bagus saja rasanya tidak cukup. Harus diedit, dikasih filter terbaik, disesuaikan pencahayaannya, bahkan dihaluskan bagian yang dirasa kurang sempurna. Tidak hanya foto, caption pun harus dirancang sedemikian rupa agar terdengar keren atau relatable.
Ini adalah kebiasaan klasik dalam psikologi media sosial, di mana seseorang ingin mengontrol cara orang lain melihatnya. Tapi, semakin berusaha menampilkan versi diri yang sempurna, semakin sulit menerima diri sendiri apa adanya.
3. Dilanda Kecemasan Saat Postingan Tidak Mendapat Respons yang Diharapkan
Ketika sebuah unggahan tidak mendapat banyak like atau komentar, langsung muncul perasaan gelisah. "Apa ada yang salah?" "Kenapa mereka tidak merespons?" Bahkan, ada yang sampai menghapus postingan hanya karena engagement-nya rendah.
Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan di media sosial mengaktifkan sistem penghargaan di otak, mirip dengan perjudian. Ada rasa antisipasi setiap kali memposting sesuatu, berharap mendapat validasi. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, muncul perasaan kecewa, bahkan merasa kurang berharga.
Sayangnya, ketergantungan pada validasi online ini bisa membuat interaksi dunia nyata terasa kurang berarti. Padahal, percakapan langsung jauh lebih berharga daripada sekadar like di layar.
4. Membandingkan Kehidupan dengan Orang Lain Secara Online
Scrolling media sosial bisa jadi jebakan besar. Semua orang tampak sukses, bahagia, dan punya kehidupan sempurna. Ada yang liburan ke tempat eksotis, ada yang berhasil dalam karier, ada yang punya pasangan harmonis.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
