Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Januari 2026 | 17.38 WIB

Perilaku Orang yang Tidak Memiliki Keluarga atau Teman Dekat Menurut Psikologi: Antara Kemandirian, Luka Batin, dan Strategi Bertahan Hidup

seseorang yang tidak memiliki keluarga atau teman dekat./Freepik/freepik - Image

seseorang yang tidak memiliki keluarga atau teman dekat./Freepik/freepik

JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, keluarga dan teman dekat sering dianggap sebagai fondasi utama kesejahteraan emosional seseorang.

Mereka menjadi tempat berbagi cerita, berlindung saat rapuh, dan cermin untuk memahami diri sendiri. Namun pada kenyataannya, tidak semua orang memiliki kemewahan tersebut.

Ada individu yang hidup tanpa keluarga inti yang berfungsi, tanpa sahabat dekat, atau memilih menjalani hidup dengan lingkaran sosial yang sangat terbatas.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (9/1), menurut psikologi, ketiadaan keluarga atau teman dekat tidak selalu berarti seseorang “tidak normal” atau bermasalah.

Justru, kondisi ini sering membentuk pola perilaku yang khas—sebagian terlihat kuat dan mandiri, sebagian lagi menyimpan dinamika emosional yang kompleks.

Lalu, perilaku apa saja yang umumnya muncul pada orang-orang dengan kondisi ini?

Berikut penjelasan mendalamnya.

1. Sangat Mandiri, Bahkan Terlihat “Terlalu Kuat”

Salah satu perilaku paling menonjol adalah tingkat kemandirian yang tinggi. Orang yang tidak memiliki keluarga atau teman dekat sering terbiasa mengandalkan diri sendiri sejak lama—baik karena keadaan memaksa maupun karena pengalaman ditinggalkan.

Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan coping mechanism. Mereka belajar menyelesaikan masalah sendiri, mengambil keputusan tanpa diskusi, dan jarang meminta bantuan. Di mata orang lain, mereka terlihat tangguh, dewasa, dan tidak mudah goyah.

Namun, di balik itu, kemandirian ekstrem kadang bukan pilihan, melainkan hasil dari keyakinan bawah sadar bahwa “tidak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri.”

2. Sulit Mempercayai Orang Lain

Tanpa pengalaman hubungan dekat yang aman (secure attachment), seseorang cenderung mengembangkan kewaspadaan berlebih terhadap orang lain. Mereka mungkin ramah di permukaan, tetapi menjaga jarak emosional yang jelas.

Menurut teori attachment, kondisi ini sering berkaitan dengan avoidant attachment style. Individu dengan gaya ini:

Tidak nyaman bergantung pada orang lain

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore