Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Desember 2025 | 20.55 WIB

Anda Tahu Anda Kehilangan Harga Diri Ketika Anda Menolerir 6 Perilaku Ini dari Orang Lain Menurut Psikologi

seseorang yang terlalu banyak menolerir orang lain./Freepik/Drazen Zigic - Image

seseorang yang terlalu banyak menolerir orang lain./Freepik/Drazen Zigic

JawaPos.com - Ada satu momen sunyi yang sering tidak kita sadari: saat kita mulai merasa lelah secara emosional, tetapi tetap bertahan.

Bukan karena cinta, bukan karena tanggung jawab, melainkan karena kita takut kehilangan penerimaan. Di titik inilah psikologi melihat sebuah sinyal penting—harga diri yang perlahan terkikis.

Harga diri bukan tentang kesombongan atau merasa lebih unggul dari orang lain. Dalam psikologi, harga diri adalah cara kita menilai nilai diri sendiri: apakah kita merasa pantas dihormati, didengarkan, dan diperlakukan dengan layak.

Ketika harga diri sehat, batasan pun jelas. Namun saat ia melemah, batas itu kabur, dan kita mulai menolerir hal-hal yang seharusnya tidak perlu ditoleransi.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (18/12), terdapat enam perilaku yang, menurut perspektif psikologi, sering menjadi tanda bahwa seseorang sedang kehilangan harga diri—terutama jika perilaku ini dibiarkan berulang kali.

1. Terus-Menerus Diremehkan, Tapi Anda Memilih Diam

Diremehkan tidak selalu berupa hinaan kasar. Kadang ia hadir dalam bentuk candaan yang menusuk, komentar sinis tentang pilihan hidup Anda, atau ekspresi meragukan setiap keputusan yang Anda buat.

Secara psikologis, ketika seseorang terus menerima perlakuan meremehkan tanpa perlawanan, ada keyakinan bawah sadar yang bekerja: “Mungkin mereka benar, aku memang tidak sepenting itu.” Diam yang berulang bukan lagi tanda kedewasaan, melainkan bentuk penyangkalan terhadap nilai diri sendiri.

Harga diri yang sehat membuat seseorang mampu berkata, setidaknya dalam hati: “Aku pantas dihormati.”

2. Batasan Anda Dilanggar, Tapi Anda Merasa Bersalah Saat Menolak

Anda sudah lelah, tapi tetap berkata “iya”. Anda tidak nyaman, tapi takut dibilang egois. Setiap kali mencoba menolak, rasa bersalah datang lebih kuat daripada rasa sakit karena dilanggar.

Psikologi melihat ini sebagai konflik antara kebutuhan diri dan kebutuhan untuk diterima. Ketika harga diri menurun, validasi eksternal menjadi lebih penting daripada kenyamanan internal. Anda mulai percaya bahwa menjaga perasaan orang lain lebih penting daripada menjaga diri sendiri.

Padahal, batasan bukan bentuk penolakan terhadap orang lain—ia adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.

3. Anda Dijadikan Pilihan Terakhir, Namun Tetap Bertahan

Mereka menghubungi Anda hanya saat butuh. Saat senang, Anda terlupakan. Saat sulit, Anda dicari. Anehnya, Anda tetap ada, tetap membantu, tetap berharap.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore