Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Oktober 2025 | 14.35 WIB

Pria yang Sangat Tidak Bahagia dengan Hidupnya Biasanya Mengulang 8 Pola Perilaku Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang tidak bahagia dalam hidupnya


JawaPos.com - Kebahagiaan bukanlah sekadar memiliki pekerjaan mapan, pasangan yang baik, atau tabungan yang cukup. 

 
Banyak pria terlihat “baik-baik saja” di luar, namun menyimpan rasa hampa di dalam. 
 
Masyarakat mengajarkan laki-laki untuk kuat, rasional, dan tidak banyak mengeluh—akibatnya, ekspresi emosi justru dibungkam. 
 
 
Mereka tumbuh dengan gagasan bahwa kerapuhan adalah kelemahan, dan tanpa sadar menjalani hidup dalam keheningan emosional.

Menurut sudut pandang psikologi, ketidakbahagiaan yang berlarut-larut biasanya bukan hanya perasaan sesaat, melainkan hasil dari pola yang terus berulang. 
 
Menariknya, banyak pria tidak menyadari bahwa tindakan sehari-hari mereka justru memperpanjang penderitaan itu.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (29/10), terdapat 8 pola perilaku yang sering diulang oleh pria yang sangat tidak bahagia dalam hidupnya.
 
Baca Juga: Orang yang Terlihat Ramah tetapi Tidak Memiliki Teman Dekat Seringkali Memiliki 8 Ciri Khas Ini Menurut Psikologi

1. Menghindari Perasaan dan Menyimpan Segalanya Sendirian

Banyak pria lebih memilih memendam emosi daripada mengungkapkan apa yang dirasakan.
 
Ini merupakan “emotional suppression”—penekanan emosi—yang menurut penelitian, dapat memicu stres kronis, depresi, hingga gangguan kecemasan. 
 
Ketika rasa sedih, marah, atau takut tidak pernah diolah, ia hanya menumpuk dan meledak dalam bentuk agresi, apatis, atau penarikan diri.

2. Menenggelamkan Diri dalam Kesibukan


Pria yang tidak bahagia sering menjadikan kesibukan sebagai pelarian: bekerja tanpa henti, gym berlebihan, atau terus terlibat dalam proyek baru. 
 
Ini bukan semata produktivitas, melainkan avoidance coping—strategi untuk menghindari rasa sakit batin. 
 
Semakin sibuk mereka, semakin kecil ruang untuk mengakui bahwa ada kekosongan dalam diri.

3. Meremehkan Diri Sendiri dan Merasa Tidak Pernah Cukup


Rendahnya penghargaan diri (low self-esteem) membuat pria sulit merayakan dirinya. 
 
Mereka merasa gagal bahkan ketika sudah berhasil mencapai banyak hal. 
 
Pikiran negatif seperti “aku tidak layak,” “aku belum pantas,” atau “aku harus bekerja lebih keras dulu” terus berputar, membuat kebahagiaan terasa mustahil diraih.

4. Mencari Pelarian Instan


Alih-alih menghadapi masalah, pria yang tidak bahagia sering mencari pengalih cepat: alkohol, game berlebihan, scrolling tanpa henti, pornografi, belanja impulsif, atau hubungan singkat. 
 
Ini disebut maladaptive coping, strategi yang memberi ketenangan sementara namun menghancurkan dalam jangka panjang.

5. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial


Hubungan yang hangat dapat menyelamatkan kesehatan mental. 
 
Namun pria yang tertekan justru cenderung menjauh: berhenti berkumpul, sulit membangun pertemanan, atau hanya berinteraksi di permukaan.
 
Isolasi ini memperburuk perasaan hampa, membuat mereka merasa semakin sendirian dalam kesulitan.

6. Menunda Pengambilan Keputusan Penting


Keraguan dan ketakutan akan kegagalan membuat mereka menunda keputusan besar: pindah kerja, memulai bisnis, putus dari hubungan toksik, atau memulai hobi baru. 
 
Sikap ini disebut procrastination, yang bukan sekadar malas, melainkan ketidakmampuan menghadapi emosi negatif seperti takut salah atau takut dinilai.

7. Menyalahkan Orang Lain atau Keadaan Eksternal


Ketika seseorang merasa tidak bahagia, lebih mudah mengatakan bahwa hidupnya terhalang orang tua, pasangan, sistem sosial, atau keberuntungan buruk. 
 
Sikap external locus of control ini membuat mereka merasa tidak punya kuasa atas hidupnya. 
 
Selama mereka yakin semuanya adalah tanggung jawab luar, mereka tidak akan pernah bergerak maju.

8. Kehilangan Arah dan Makna Hidup


Banyak pria yang tidak bahagia merasa seperti menjalani hidup secara otomatis: bangun–bekerja–tidur–ulang.
 
Tidak ada misi, nilai hidup, atau hal yang benar-benar mereka kejar. 
 
Dalam psikologi eksistensial, kekosongan ini disebut existential vacuum, dan menjadi akar dari ketidakbahagiaan dalam jangka panjang.

Kenapa Pola Ini Terjadi?

Ada banyak faktor yang memengaruhi: pola asuh yang menuntut “jadi anak laki-laki yang kuat,” kurangnya edukasi emosional, trauma masa kecil, kegagalan berulang, tekanan sosial ekonomi, hingga kurangnya figur teladan yang suportif. 
 
Yang pasti, pola ini adalah respons alami otak dan emosi untuk bertahan—bukan tanda kelemahan.

Yang membuatnya berbahaya justru karena pola-pola ini tampak “normal” di mata banyak orang.

Bagaimana Mengubahnya?

Pemulihan bukan tentang menjadi kuat atau selalu bahagia, melainkan belajar mengenali perasaan, menerima diri, dan membangun hubungan yang sehat. Beberapa langkah sederhana:

Mengakui bahwa ada masalah
Berbicara dengan orang tepercaya
Mencari bantuan profesional
Menyusun tujuan kecil
Membangun rutinitas yang seimbang
Menemukan makna & nilai pribadi
Perubahan bukan hal instan. Tapi setiap langkah kecil memiliki kekuatan.

Penutup: Tidak Bahagia Bukan Akhir


Pria bisa menangis tanpa kehilangan martabat. 
 
Bisa rapuh tanpa kehilangan kehormatan. 
 
Bisa minta bantuan tanpa dianggap lemah.

Jika kamu melihat dirimu dalam beberapa pola di atas, itu bukan vonis—itu tanda bahwa kamu sudah mulai menyadarinya. 
 
Dan kesadaran adalah pintu pertama untuk pulih.

Hidup yang lebih bermakna selalu mungkin dimulai, bahkan dari titik terendah sekalipun.

Selama kita berani jujur pada diri sendiri.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore