Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 Oktober 2025 | 22.48 WIB

9 Kebiasaan Jitu Psikologis yang Lebih Menjamin Sukses daripada Sekadar Kerja Keras Terus-Menerus

Seseorang fokus bekerja di meja yang rapi tanpa gangguan, mencerminkan salah satu kebiasaan sukses yang disebut deep work./Freepik - Image

Seseorang fokus bekerja di meja yang rapi tanpa gangguan, mencerminkan salah satu kebiasaan sukses yang disebut deep work./Freepik

JawaPos.com - Kita sering mendengar narasi bahwa kunci mencapai kesuksesan hanya terletak pada kerja lebih keras, berjuang lebih lama, dan siap berkorban segala-galanya untuk karier.

Padahal, ilmu psikologi justru mengungkap adanya faktor penentu kesuksesan yang sangat berbeda dari sekadar jam kerja yang dihabiskan.

Faktor pembeda yang sebenarnya adalah kebiasaan yang berfokus pada cara kita berpikir, berhubungan, dan merespons berbagai tantangan hidup, melansir dari Global English Editing Selasa (21/10).

Kebiasaan kecil ini bukan perubahan semalam, tetapi merupakan praktik rutin yang jika diterapkan secara konsisten akan menghasilkan hasil akhir yang jauh berbeda secara dramatis seiring waktu berjalan.

1. Perlakukan Emosi sebagai Data, Bukan Gangguan

Kebanyakan orang memilih untuk mengabaikan perasaan mereka atau berusaha keras menghadapinya tanpa mendengarkan pesan di dalamnya. Mereka yang berkinerja tinggi melakukan hal unik, yaitu mereka benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh emosi diri sendiri.

Kecerdasan emosional terbukti memprediksi kesuksesan lebih baik daripada IQ tradisional, bahkan menyumbang hampir 90% faktor pendorong kenaikan jabatan ketika keterampilan teknis sudah setara. Rasa cemas mungkin saja mengisyaratkan adanya masalah nyata yang perlu diperhatikan, sementara rasa frustrasi bisa menunjukkan perlunya sebuah perubahan.

2. Ajukan Pertanyaan "Apa" daripada "Mengapa"

Ketika menghadapi masalah, orang sukses akan bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan secara berbeda?" daripada sekadar merenung, "Mengapa hal ini menimpa saya?". Penelitian tentang kesadaran diri menunjukkan bahwa pertanyaan "apa" mendorong munculnya solusi dan pertumbuhan, sementara pertanyaan "mengapa" justru mengarah pada keraguan diri. Perbedaan sederhana dalam pertanyaan ini menentukan apakah Anda akan tetap di tempat atau justru benar-benar bergerak maju setelah mengalami kegagalan.

3. Otomatisasi Tugas yang Biasa dan Rutin

Orang-orang paling sukses sebetulnya tidak bekerja lebih keras, melainkan mereka bekerja pada hal-hal yang berbeda dari orang lain. Mereka menyingkirkan tugas-tugas berulang dari daftar harian, misalnya dengan mengatur filter untuk menyortir e-mail secara otomatis. Warren Buffett pernah mengatakan bahwa "orang yang benar-benar sukses mengatakan tidak untuk hampir semua hal," dan otomatisasi adalah cara untuk mengatakan tidak tanpa harus memikirkannya berulang kali. Perhatian dan energi yang terbebaskan kemudian dapat dialihkan untuk pekerjaan yang benar-benar memberikan dampak signifikan pada hasil akhir.

4. Prioritaskan Pemulihan Seserius Bekerja

Masyarakat kita sering memuji budaya kerja keras tanpa henti, tetapi penelitian pada individu berkinerja tinggi menunjukkan bahwa mereka justru sangat menjaga waktu istirahat mereka. Kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan regulasi emosional akan menurun drastis ketika kondisi tubuh benar-benar lelah akibat terlalu memaksakan diri. Tidur yang berkualitas, jalan santai rutin, dan melepaskan diri dari pekerjaan bukanlah kemewahan, tetapi kebutuhan otak untuk pulih sama seperti otot setelah berolahraga. Orang yang secara sengaja membangun waktu istirahat seringkali mencapai hasil yang lebih banyak daripada mereka yang bekerja hingga 80 jam per minggu.

5. Definisikan Ulang Makna Kegagalan

Penelitian Growth Mindset dari Psikolog Carol Dweck menunjukkan bahwa orang yang memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan akan mengungguli mereka yang meyakini bakat bersifat tetap. Seseorang dengan growth mindset melihat kegagalan sebagai informasi berharga untuk perbaikan. Sementara, seseorang dengan fixed mindset melihatnya sebagai bukti keterbatasan diri mereka sendiri, sehingga membuat mereka menyerah. Kebiasaan ini menciptakan jalur karier yang sangat berbeda seiring berjalannya waktu, yaitu dengan memperlakukan kemunduran sebagai data, bukan sebagai penentu identitas diri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore