Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 September 2025 | 05.08 WIB

Orang yang Hidup dengan Penyesalan Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Menampilkan 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi

Seseorang yang hidup dalam penyesalan


JawaPos.com - Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan.

 
Namun, tidak semua orang bisa melepaskan masa lalu dengan ikhlas. 
 
Sebagian orang memilih belajar, melangkah, dan tumbuh, sementara sebagian lain justru terjebak dalam lingkaran penyesalan.
 
 
Psikologi menunjukkan bahwa individu yang kerap menua dengan rasa sesal memiliki pola perilaku tertentu.

Perilaku ini sering kali muncul secara halus, bahkan tanpa disadari. 
 
Dilansir dari Geediting pada Kamis (25/9), seiring bertambahnya usia, pola tersebut bisa menjadi beban mental, menggerogoti kebahagiaan, dan membuat hidup terasa hampa. 
 
Mari kita bahas delapan perilaku yang biasanya ditampilkan orang yang hidup dengan penyesalan menurut sudut pandang psikologi.
 

1. Terlalu Sering Menoleh ke Masa Lalu


Orang yang menyesal cenderung hidup dalam bayang-bayang “andai saja”. 
 
Mereka sering mengulang kembali skenario lama di kepala, membayangkan hasil berbeda jika dulu mereka mengambil keputusan lain. 
 
Dalam psikologi, ini disebut ruminasi, yakni pola pikir berulang yang melelahkan karena tidak memberi solusi nyata.

2. Menghindari Kesempatan Baru


Ketika menyesal terlalu dalam, seseorang bisa kehilangan keberanian untuk mencoba lagi. 
 
Misalnya, setelah gagal berbisnis, mereka memilih berhenti total daripada kembali bangkit. 
 
Padahal, penghindaran ini hanya memperpanjang rasa sesal karena kesempatan baru terlewat begitu saja.

3. Membandingkan Diri Secara Berlebihan


Individu penuh penyesalan sering membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. 
 
Mereka merasa terlambat, tertinggal, atau tidak cukup berharga. 
 
Perbandingan sosial yang berlebihan ini menimbulkan rasa iri dan rendah diri, sehingga makin memperkuat lingkaran penyesalan.

4. Sulit Memaafkan Diri Sendiri


Psikologi positif menekankan pentingnya self-compassion. 
 
Sayangnya, orang yang hidup dengan penyesalan sering kali terlalu keras pada diri sendiri. 
 
Mereka terus-menerus menghukum diri, merasa tak pantas berbahagia, dan gagal melihat bahwa kesalahan adalah bagian alami dari kehidupan.

5. Membesar-besarkan Kegagalan


Setiap kesalahan seolah menjadi “cap permanen” dalam hidup mereka. 
 
Padahal, kegagalan hanyalah satu bab dalam perjalanan panjang. 
 
Ketika seseorang terlalu fokus pada sisi gelap ini, mereka menutup mata dari keberhasilan kecil yang juga pernah diraih.

6. Menunda Kebahagiaan


Ada orang yang selalu berkata, “Nanti kalau sudah berhasil, baru saya bahagia.” 
 
Inilah bentuk delay of gratification yang salah arah. 
 
Orang penuh penyesalan sering kali menahan diri untuk menikmati momen sekarang, karena merasa belum pantas, sehingga akhirnya usia bertambah tanpa pernah benar-benar menikmati hidup.

7. Menutup Diri dari Hubungan Sosial

Rasa sesal membuat sebagian orang menarik diri dari lingkaran sosial. 
 
Mereka takut dihakimi, malu menceritakan kegagalan, atau merasa tidak layak berada di tengah orang-orang sukses. 
 
Padahal, isolasi sosial justru memperburuk kondisi mental dan memperkuat rasa kesepian di usia senja.

8. Sering Menyalahkan Keadaan atau Orang Lain


Alih-alih menerima kenyataan, orang yang hidup dengan penyesalan cenderung mencari kambing hitam. 
 
Mereka menyalahkan situasi, keluarga, bahkan takdir. 
 
Sikap defensif ini membuat mereka sulit bangkit karena energi habis untuk menghindari tanggung jawab, bukan untuk memperbaiki diri.

Penutup: Belajar Mengurai Penyesalan


Hidup dengan penyesalan ibarat berjalan sambil memanggul beban berat. Setiap langkah terasa lambat, dan pemandangan indah di depan mata sulit dinikmati. 
 
Psikologi mengajarkan bahwa kunci untuk hidup lebih ringan adalah menerima, memaafkan diri, dan kembali berani melangkah.

Usia memang bertambah, namun kesempatan untuk berbahagia tidak pernah benar-benar hilang. 
 
Yang perlu dilakukan adalah berhenti menatap cermin masa lalu terlalu lama, lalu mulai melangkah dengan penuh kesadaran hari ini. 
 
Karena pada akhirnya, bukan kesalahan yang menentukan kualitas hidup kita, melainkan cara kita menyikapi dan bangkit dari kesalahan itu sendiri.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore