
Ilustrasi seseorang yang merasa bahwa dirinya tidak cukup (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Merasa tidak cukup baik adalah perasaan yang diam-diam dialami banyak orang. Rasa ini bisa muncul saat kamu membandingkan diri dengan orang lain, merasa gagal memenuhi ekspektasi, atau sekadar merasa ada yang salah dalam dirimu.
"Kenapa ya, saya selalu merasa kurang? Padahal orang lain bilang saya sudah melakukan yang terbaik." Kalimat seperti ini sering terlintas di kepala ketika perasaan tidak cukup baik menghantui.
Menurut psikologi, fenomena ini tidak muncul begitu saja. Ada faktor yang berakar dari masa lalu, pola pikir yang salah kaprah, hingga tekanan lingkungan yang tanpa sadar membentuk keyakinan bahwa diri kita selalu kurang.
Dampaknya pun nyata. Sebuah laporan dari Psychology Today menemukan bahwa 75% remaja perempuan dengan self-esteem rendah terlibat dalam perilaku merugikan diri sendiri.
Contohnya seperti melukai diri, bullying, merokok, minum alkohol, hingga pola makan tidak sehat. Data ini menunjukkan bahwa rasa tidak cukup baik bukan sekadar masalah sepele, tapi bisa berujung pada risiko serius terhadap kesehatan mental maupun fisik.
Faktanya, banyak orang tidak menyadari penyebab sebenarnya. Akibatnya, mereka terjebak dalam pola overthinking dan kritik pada diri sendiri yang semakin mengikis rasa percaya diri.
Nah, agar lebih jelas, mari kita bahas 5 penyebab tersembunyi mengapa seseorang sering merasa tidak cukup baik menurut psikologi dilansir dari The Oak Tree Practice, Linkedin dan Therapy In a Nutshell.
1. Luka Penolakan di Masa Lalu
Rasa "tidak cukup baik" sering kali berakar dari pengalaman masa kecil.
Misalnya, ketika anak lebih sering mendapatkan kritik daripada dukungan, atau ketika kasih sayang orang tua terasa bersyarat yang mungkin hanya hadir saat ia berprestasi.
Pengalaman seperti ini membentuk keyakinan, "Saya hanya layak dicintai kalau saya sempurna."
Contoh sederhananya, seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat menekankan nilai akademik.
Anak itu akan tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya tidak berharga bila tidak selalu mendapat nilai terbaik.
Luka ini mungkin membuatnya sukses secara pencapaian, tapi di sisi lain, ia merasa hampa karena hidupnya lebih diatur oleh tuntutan eksternal daripada nilai dirinya sendiri.
2. Perfeksionisme yang Jadi Bumerang

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
