Kecanduan validasi sosial membuat seseorang mengukur harga diri dari pengakuan orang lain, bukan dari dirinya sendiri
JawaPos.com – Dalam kehidupan sehari-hari, wajar jika seseorang menginginkan pengakuan atas apa yang telah dilakukan. Namun, ketika kebutuhan akan pengakuan berubah menjadi keharusan, muncullah fenomena yang dikenal sebagai kecanduan validasi sosial. Fenomena ini semakin terlihat jelas sejak kehadiran media sosial, ketika jumlah “like” dan komentar sering dijadikan tolok ukur harga diri.
Menurut psikolog Indah SJ, M.Psi., kecanduan validasi sosial adalah kondisi ketika seseorang merasa identitas dan nilai dirinya hanya ditentukan oleh pendapat orang lain. Dalam kontennya di TikTok, ia menyebutkan bahwa hal ini sering kali berawal dari pola asuh masa kecil, ketika anak tidak mendapatkan apresiasi cukup. Ketika dewasa, kebutuhan tersebut dibawa ke lingkungan sosial yang lebih luas.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan remaja. Seperti dijelaskan kanal edukasi Si Kutu Buku di YouTube, kecanduan validasi bisa dialami siapa saja. Orang dewasa pun kerap terjebak pada pola ini, misalnya selalu ingin terlihat sempurna di kantor atau tidak bisa menolak demi menjaga citra di depan orang lain. Akibatnya, keputusan hidup sering kali bukan berasal dari keinginan pribadi, melainkan demi memenuhi ekspektasi sosial.
Baca Juga: Kenali 3 Tipe Kepribadian yang Sering Mencari Validasi Sosial dan Bagaimana Cara Menghindarinya
Salah satu tanda utama kecanduan validasi adalah kegelisahan yang muncul ketika tidak mendapat respon dari orang lain. Akun TikTok @karinaustinn menyoroti bagaimana sebagian orang bisa kehilangan semangat hanya karena unggahannya sepi komentar. Tidak berhenti di situ, mereka bahkan merasa harga dirinya jatuh ketika tidak mendapat perhatian.
Selain itu, akun @mudahbergaul menambahkan bahwa orang yang kecanduan validasi sering kali sulit berkata “tidak”. Mereka takut ditolak atau tidak disukai sehingga lebih memilih menuruti permintaan orang lain meski mengorbankan diri sendiri. Hal ini menciptakan pola relasi yang tidak sehat dan menekan kesehatan mental.
Psikolog Indah SJ dalam konten lainnya juga menekankan bahwa dampak kecanduan validasi sangat serius. Ketika seseorang selalu menunggu pengakuan eksternal, ia menjadi mudah kecewa, cemas, hingga depresi. Alih-alih merasa bebas, hidupnya dikendalikan oleh penilaian orang lain.
Dari sisi psikologis, fenomena ini berkaitan dengan konsep self-worth atau harga diri. Mereka yang tidak memiliki landasan kuat akan lebih mudah terjebak pada kebutuhan validasi. Akibatnya, energi emosional habis untuk memenuhi ekspektasi orang lain, sementara kebutuhan pribadi terabaikan.
Lantas, bagaimana cara keluar dari lingkaran kecanduan validasi? Menurut kanal Si Kutu Buku, langkah pertama adalah menyadari pola perilaku yang tidak sehat. Dengan mengenali kapan seseorang mulai cemas karena kurang pengakuan, ia bisa mulai mengatur responsnya.
Psikolog Indah SJ menyarankan untuk melatih self-affirmation. Dengan membiasakan diri mengatakan hal positif pada diri sendiri, seseorang bisa membangun fondasi harga diri yang lebih kuat. Misalnya, mengapresiasi usaha kecil yang sudah dilakukan tanpa menunggu komentar orang lain.
Selain itu, akun @karinaustinn menekankan pentingnya menetapkan batasan sehat dalam berhubungan. Berani menolak ketika tidak sanggup atau tidak setuju adalah bagian dari menjaga kesehatan mental. Hal ini sekaligus mengurangi ketergantungan pada pengakuan eksternal.
Dukungan sosial yang tepat juga berperan besar. Akun @mudahbergaul menekankan bahwa berada di lingkungan yang suportif dapat membantu seseorang lebih percaya diri tanpa harus selalu mencari validasi. Lingkungan yang menerima diri apa adanya akan mendorong individu untuk merasa cukup dengan dirinya sendiri.
Fenomena kecanduan validasi sosial menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari jumlah like atau komentar, melainkan dari penerimaan diri yang sehat. Dengan latihan konsisten, kesadaran diri, dan dukungan lingkungan, setiap orang bisa melepaskan diri dari jerat validasi sosial yang melelahkan.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
