Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 September 2025 | 15.27 WIB

Mengejutkan! Inilah 9 Alasan Kenapa Pria yang Benar-benar Baik Sering Diabaikan Menurut Psikologi

Ilustrasi aldan pria yang benar-benar baik sering diabaikan. (Freepik) - Image

Ilustrasi aldan pria yang benar-benar baik sering diabaikan. (Freepik)

JawaPos.com - Psikologi mengungkap beberapa kebenaran yang tidak mengenakkan tentang mengapa pria baiki menjadi tak terlihat di dunia yang mengaku menghargai apa yang mereka tawarkan. 

Bahkan, pria yang benar-benar mewujudkan kualitas-kualitas baik, seringkali diabaikan demi alternatif yang lebih tegas, bahkan bermasalah. 

Mereka hanya menonton dari pinggir lapangan ketika teman-teman mengeluh tentang pasangan yang toksik, bertanya-tanya mengapa kehangatan mereka yang tulus justru menjauh, alih-alih menarik.

Dilansir dari Geediting, alasannya tidak banyak bicara tentang mereka, melainkan tentang bagaimana kita telah dikondisikan untuk mengenali dan merespons berbagai bentuk maskulinitas.

Selengkpanya, inilah alasan di balik mengapa pria baik justru sering diabaikan. Simak!

1. Rendah Hati

Pria yang tulus dan baik hati sering mempraktikkan apa yang disebut psikolog sebagai presentasi diri yang sederhana, mereka secara alami mengecilkan pencapaian mereka dibandingkan membanggakannya. 

Ketika ditanya tentang promosi, mereka memuji tim. Ketika dipuji atas keterampilan mereka, mereka beralih ke keberuntungan atau waktu. 

Sebab kerendahan hati yang tulus ini, meskipun patut dikagumi, membuat mereka hampir tak terlihat di lingkungan yang menghargai promosi diri.

Mereka berasumsi pekerjaan mereka akan berbicara sendiri, dan karakter mereka pada akhirnya akan terpancar. 

Sementara itu, pesaing yang kurang berkualitas tetapi lebih vokal justru merebut sorotan, promosi, dan seringkali, perhatian romantis.

2. Kebaikan Sering Disalahartikan

Masyarakat telah melakukan pekerjaan yang spektakuler dalam menyamakan kebaikan dengan kelemahan, dan pria yang tulus baik hati menanggung akibatnya. 

Ketika mereka memilih untuk tidak terlibat dalam perebutan kekuasaan, mereka dianggap kurang berambisi. 

Ketika mereka lebih banyak mendengar daripada berbicara, mereka dicap pasif. Kecerdasan emosional mereka disalahartikan sebagai kelembutan, alih-alih kekuatan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore