Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 September 2025 | 02.49 WIB

Psikolog Ungkap Alasan Kenapa Seseorang Sering Merasa Tidak Cukup Baik Meski Sudah Berusaha Maksimal

ILustrasi wanita yang overthinking

JawaPos.com – Siapa yang tidak pernah merasa dirinya kurang? Meski sudah berusaha maksimal, ada kalanya seseorang masih merasa tidak cukup baik.

Perasaan ini tidak hanya dialami remaja, tetapi juga orang dewasa yang aktif bekerja maupun berinteraksi di lingkungan sosial.

Fenomena ini semakin sering muncul di era media sosial, di mana perbandingan dengan orang lain seakan tak bisa dihindari.

Lantas, mengapa seseorang bisa merasa dirinya tidak cukup baik?

Menurut penjelasan Jiemi Ardianty, seorang psikolog klinis melalui unggahan di TikTok (@jiemiardian), salah satu penyebab utama adalah pola pikir perfeksionis. Orang dengan kecenderungan ini sering kali menaruh standar terlalu tinggi pada dirinya sendiri.

Alih-alih merasa puas dengan hasil kerja keras, mereka lebih fokus pada kekurangan kecil yang dianggap merusak keseluruhan pencapaian. “Perfeksionisme membuat seseorang tidak pernah merasa cukup, karena standar yang dipasang selalu berubah-ubah dan terlalu tinggi,” ungkapnya.

Selain perfeksionisme, lingkungan sekitar juga berperan besar. Dalam video lain yang dibagikan oleh akun TikTok @sundarindah, disebutkan bahwa pengalaman tumbuh dalam lingkungan yang penuh kritik dapat menanamkan perasaan "tidak cukup" sejak kecil.

Misalnya, anak yang selalu dibandingkan dengan saudaranya, atau mendapat validasi hanya ketika berhasil, cenderung membawa pola pikir itu hingga dewasa. Akibatnya, mereka sulit menerima diri apa adanya.

Tak hanya faktor eksternal, kondisi ini juga dipengaruhi oleh internalisasi standar sosial yang tidak realistis. Platform seperti Instagram atau TikTok sering menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Menurut penjelasan Neuron Education (@newronedu), terlalu sering membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial dapat menciptakan rasa inferior. “Orang cenderung lupa bahwa yang ditampilkan hanyalah highlight, bukan realita penuh. Ini membuat banyak orang merasa dirinya kurang berharga,” ujar akun edukasi tersebut.

Lebih jauh, Satu Persen – Indonesian Life School dalam kanal YouTube mereka menjelaskan bahwa akar perasaan "tidak cukup baik" kerap berhubungan dengan self-esteem atau harga diri yang rapuh. Orang dengan self-esteem rendah biasanya lebih sulit menghargai diri sendiri dan cenderung mencari validasi dari luar. Jika validasi itu tidak datang, mereka merasa gagal atau kurang layak.

Dampak dari perasaan ini tentu tidak sepele. Seseorang yang selalu merasa tidak cukup baik rentan mengalami stres, kecemasan, bahkan depresi ringan. Mereka juga bisa kesulitan membangun hubungan sehat, karena selalu merasa tidak pantas dicintai atau dihargai.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore