Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 19.59 WIB

Bisakah Sifat Manusia Berubah? Penelitian Psikologi Modern Bongkar Fakta Mengejutkan soal Kepribadian

penelitian psikologi menunjukkan sifat tetap bisa berkembang dengan usaha dan pengalaman hidup. (freepik) - Image

penelitian psikologi menunjukkan sifat tetap bisa berkembang dengan usaha dan pengalaman hidup. (freepik)

JawaPos.com – Pertanyaan mengenai apakah kepribadian dan sifat manusia bisa diubah kerap menjadi bahan diskusi dalam psikologi maupun obrolan sehari-hari. Ada yang berpendapat sifat seseorang sudah bawaan lahir dan sulit diubah, namun ada pula yang meyakini bahwa kepribadian dapat berkembang sesuai pengalaman hidup. Lantas, mana yang benar?

Apa Itu Kepribadian?

Kepribadian adalah pola khas dalam berpikir, merasakan, dan berperilaku yang membedakan satu individu dengan lainnya. Healthline (2022) menjelaskan, sebagian aspek kepribadian memang dipengaruhi faktor genetik, seperti temperamen. Meski demikian, lingkungan, pengalaman hidup, hingga pola asuh memiliki peran besar dalam membentuk siapa kita.

Menurut Psychology Binus (2016), kepribadian dapat berubah melalui proses panjang. Misalnya, seseorang yang dulunya pemalu bisa menjadi lebih percaya diri setelah sering berlatih komunikasi dan mendapatkan pengalaman sosial yang positif.

Bisa atau Tidak Kepribadian Berubah?

Sebuah studi yang dipublikasikan di Psychological Science (2022) menegaskan bahwa kepribadian bersifat fleksibel. Sifat manusia tidak sepenuhnya statis, melainkan dapat berkembang jika disertai usaha konsisten. PsychCentral juga menambahkan, perubahan sifat sering kali muncul ketika seseorang menghadapi peristiwa besar dalam hidup, seperti pernikahan, kehilangan, atau transisi karier. Situasi tersebut memaksa individu menyesuaikan pola pikir dan perilaku mereka.

Namun, National Library of Medicine (PMC, 2022) menekankan bahwa tidak semua aspek kepribadian bisa berubah secara drastis. Ciri dasar, seperti kecenderungan introvert atau ekstrovert, cenderung stabil sepanjang hidup. Meski demikian, perilaku sehari-hari dan cara menghadapi situasi tetap bisa dilatih agar lebih adaptif.

Mengapa Perubahan Bisa Terjadi?

Menurut Sage Journals (2023), perubahan kepribadian erat kaitannya dengan neuroplastisitas otak, yaitu kemampuan otak beradaptasi terhadap pengalaman baru. Saat seseorang mempelajari keterampilan baru atau melatih pengendalian emosi, koneksi saraf di otak pun ikut berubah. Hal inilah yang memungkinkan terjadinya penyesuaian sifat.

Selain itu, faktor motivasi juga berperan besar. Individu yang benar-benar ingin berubah biasanya lebih berhasil membentuk kebiasaan baru. Dukungan sosial dari keluarga, pasangan, maupun lingkungan kerja turut memperkuat proses tersebut.

Pengalaman hidup juga tidak bisa diabaikan. Peristiwa traumatis seperti kehilangan orang terdekat atau kegagalan besar dapat mengubah cara berpikir seseorang. Psychology Today menyebut pengalaman emosional intens sering menjadi pemicu lahirnya pola kepribadian baru, baik ke arah positif maupun negatif.

Era modern pun memberikan pengaruh tersendiri. Paparan teknologi, media sosial, dan pergaulan lintas budaya membuat manusia lebih adaptif dalam menyesuaikan diri. Para pakar menilai, fleksibilitas ini membuktikan bahwa kepribadian bukanlah hal yang sepenuhnya kaku.

Bagaimana Cara Mengubah Kepribadian?

Psikolog memberikan sejumlah strategi agar perubahan kepribadian lebih mungkin tercapai:

  • Tetapkan tujuan jelas. Misalnya ingin lebih sabar atau berani berbicara di depan umum.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore