Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Agustus 2025 | 16.59 WIB

Orang yang Menjadi Lebih Sensitif dan Mudah Tersentuh Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengembangkan 7 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang menjadi lebih sensitif seiring bertambahnya usia


JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, perubahan dalam cara kita merasakan, merespons, dan memahami dunia sering kali menjadi lebih nyata. 

 
Banyak orang yang mengaku dirinya kini lebih mudah tersentuh, lebih cepat terharu, atau lebih peka terhadap hal-hal kecil dibanding saat masih muda. 
 
Fenomena ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari perjalanan psikologis manusia. 
 
 
Menjadi lebih sensitif sebenarnya memiliki sisi positif: memperdalam empati, memperkaya makna hidup, dan membuat seseorang lebih menghargai momen sederhana.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (28/8), psikologi menunjukkan bahwa perubahan sensitivitas seiring bertambahnya usia dipengaruhi oleh pengalaman hidup, perubahan biologis, serta peningkatan kesadaran emosional. 
 
Menariknya, mereka yang menjadi lebih sensitif biasanya juga mengembangkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. 
 
Berikut tujuh di antaranya:
 
Baca Juga: Waspada! 7 Gejala Penyakit Kronis Akibat Kebiasaan Minum Manis pada Orang Tua

1. Lebih Mudah Tersentuh oleh Hal-Hal Sederhana


Orang yang semakin sensitif kerap merasa terharu hanya karena mendengar lagu lama, melihat anak kecil tertawa, atau menerima ucapan terima kasih tulus. 
 
Hal-hal kecil yang dulu mungkin terabaikan kini bisa memunculkan rasa hangat di hati. 
 
Psikologi menjelaskan hal ini sebagai tanda meningkatnya emosionalitas positif, di mana seseorang lebih menghargai momen kecil sebagai sumber kebahagiaan.

2. Lebih Sering Menghindari Konflik


Dengan bertambahnya usia, energi untuk bertengkar atau berdebat biasanya berkurang. 
 
Orang yang lebih sensitif cenderung memilih jalan damai karena mereka menyadari konflik hanya akan menguras emosi. 
 
Kebiasaan ini berkaitan dengan regulasi emosi, yakni kemampuan untuk menjaga kestabilan hati dengan memilih hal-hal yang lebih menenangkan.

3. Mudah Menangis, Namun Juga Mudah Tersenyum


Air mata bukan lagi dianggap sebagai kelemahan, melainkan ekspresi ketulusan hati. 
 
Mereka bisa menangis saat menonton film, mendengar cerita sedih, bahkan saat merasa bangga pada orang lain. 
 
Menurut psikologi, hal ini menunjukkan peningkatan emosi empatik—kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. 
 
Menariknya, meski mudah menangis, mereka juga lebih mudah tersenyum dan merasakan kebahagiaan sederhana.

4. Lebih Peka terhadap Perasaan Orang Lain


Semakin sensitif seseorang, semakin kuat pula intuisi mereka dalam membaca suasana hati orang di sekitarnya. 
 
Mereka bisa cepat menangkap nada suara yang berubah, tatapan mata yang murung, atau senyum yang dipaksakan. 
 
Kebiasaan ini berakar pada empati afektif, yakni kemampuan memahami emosi orang lain tanpa perlu banyak kata.

5. Cenderung Memilih Lingkungan yang Menenangkan


Seiring usia, orang yang lebih sensitif biasanya enggan berada di lingkungan yang terlalu bising atau penuh drama. 
 
Mereka lebih suka berkumpul dengan orang-orang yang memberi energi positif, atau sekadar menikmati waktu sendiri di ruang yang tenang. 
 
Psikologi menyebutnya sebagai bentuk self-care emosional, di mana seseorang mulai sadar bahwa menjaga ketenangan hati adalah prioritas.

6. Lebih Reflektif dan Banyak Merenung


Kebiasaan merenung tentang masa lalu, arti hidup, atau perjalanan pribadi menjadi lebih sering muncul. 
 
Sensitivitas membuat mereka lebih sadar akan waktu, kehilangan, dan kebermaknaan hidup. 
 
Ini berkaitan dengan kesadaran eksistensial, yaitu refleksi mendalam tentang siapa kita, apa yang sudah dilewati, dan ke mana kita akan melangkah.

7. Lebih Selektif dalam Menjalin Hubungan


Bukan berarti menutup diri, melainkan lebih berhati-hati dalam memilih siapa yang dekat di hati. 
 
Mereka tidak lagi mencari banyak teman, tapi lebih mengutamakan kualitas hubungan. 
 
Psikologi menyebutnya sebagai emotional pruning, yakni proses alamiah di mana seseorang menyingkirkan hal-hal yang tidak bermanfaat, termasuk dalam hubungan sosial.

Penutup: Sensitivitas sebagai Anugerah


Menjadi lebih sensitif seiring bertambahnya usia bukanlah kelemahan, melainkan anugerah.
 
Itu tanda bahwa hati semakin lembut, empati semakin luas, dan pemahaman tentang kehidupan semakin dalam. 
 
Sensitivitas melatih kita untuk lebih menghargai momen kecil, menjaga hubungan bermakna, dan hidup dengan rasa syukur.

Pada akhirnya, setiap tetes air mata, setiap senyuman, dan setiap kepekaan yang muncul adalah bagian dari kedewasaan emosional. 
 
Semakin tua, kita bukan sekadar bertambah umur, tapi juga bertambah dalam rasa.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore