Intuisi adalah proses psikologis bawah sadar yang membantu manusia mengambil keputusan cepat untuk menghindari kesalahan fatal
JawaPos.com – Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika “bisikan hati” terasa lebih kuat dibanding logika.
Misalnya, memilih untuk tidak mengambil jalan tertentu atau menunda sebuah keputusan besar, lalu belakangan ternyata pilihan itu menyelamatkan diri dari masalah.
Fenomena ini dikenal sebagai intuisi—dan sains psikologi menegaskan bahwa intuisi bukanlah takhayul, melainkan bagian dari proses kognitif manusia.
Baca Juga: 7 Tanda Kamu Punya Kecerdasan Emosional Tinggi Menurut Psikologi, Nomor 5 Sering Tak Disadari
Apa Itu Intuisi Menurut Psikologi?
Menurut Psychology Today, intuisi adalah kemampuan otak untuk membuat keputusan cepat berdasarkan pengalaman, pola yang pernah ditemui, serta informasi tidak sadar. Artinya, insting bukan muncul begitu saja, melainkan hasil akumulasi pengetahuan yang tersimpan di memori.
American Psychological Association (APA) menyebut intuisi sebagai “pemikiran cepat” yang bekerja paralel dengan nalar analitis (APA Monitor, 2005). Mekanisme ini membuat manusia mampu merespons situasi berisiko tinggi tanpa harus melewati proses berpikir panjang.
Bagaimana Intuisi Bekerja?
Studi di Trends in Cognitive Sciences (2010) menjelaskan bahwa intuisi diproses di otak bagian amigdala dan korteks prefrontal, yaitu area yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan. Intuisi muncul ketika otak mengenali pola yang mirip dengan pengalaman sebelumnya. Misalnya, seorang dokter bisa mendeteksi gejala berbahaya hanya dari intuisi, karena ia telah melihat ratusan kasus serupa sebelumnya.
Lebih lanjut, penelitian Psychological Science (2022) menegaskan bahwa intuisi bekerja layaknya “pemotongan jalan” dalam berpikir. Ia memang cepat, tapi tidak selalu akurat. Inilah alasan mengapa intuisi bisa menyelamatkan dari kesalahan fatal, namun juga berpotensi menyesatkan bila diikuti tanpa pertimbangan rasional.
Kapan Intuisi Bisa Dipercaya?
Menurut Verywell Mind (2023), intuisi paling dapat diandalkan ketika seseorang berada di bidang yang sudah dikuasai. Atlet, misalnya, sering mengandalkan intuisi saat bertanding karena tubuh dan otaknya sudah terbiasa dengan pola permainan. Hal serupa juga berlaku dalam bisnis atau hubungan sosial, di mana pengalaman bertahun-tahun memberi “insting” terhadap situasi tertentu.
Namun, intuisi perlu diwaspadai ketika digunakan dalam konteks yang asing. Greater Good Science Center (2021) mencatat bahwa bias kognitif seperti stereotip atau prasangka bisa menyamar sebagai intuisi, padahal sebenarnya hanyalah penilaian keliru.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
