Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Agustus 2025 | 00.54 WIB

Jika Anda Lebih Sering Menelepon daripada Mengirim Chat Whatsapp, Psikologi Menyebut Anda Punya 5 Sifat Unik Ini

Ilustrasi irang yang lebih sering menelepon daripada mengirim pesan teks (freepik)

 

JawaPos.Com - Mengirim pesan teks memang praktis. Lebih tenang, bisa dilakukan kapan saja, dan mudah dilakukan sambil mengerjakan banyak hal lain. Namun, tetap saja—sebagian orang masih lebih memilih mengangkat telepon.

Jika Anda termasuk orang yang lebih suka menelepon daripada mengetik paragraf panjang, psikologi menyebut pilihan itu bukanlah kebetulan. Kebiasaan tersebut mencerminkan lima kualitas unik dalam cara berpikir, berhubungan, dan menyelesaikan masalah.

Berikut penjelasan lima sifat tersebut, landasan psikologinya, serta cara sederhana memanfaatkan kekuatan itu (tanpa menjadi orang yang menelepon di waktu tidak tepat) dilansir dari laman Geediting, Rabu (20/08)

1) Anda Mengutamakan Kedalaman Emosional Dibanding Kenyamanan
Jika telepon menjadi pilihan utama, Anda cenderung menghargai kedekatan emosional yang lebih terasa lewat suara dibanding teks. Teori Kehadiran Sosial dan Teori Kekayaan Media menjelaskan bahwa suara mampu menyampaikan kehangatan, empati, dan makna kompleks lebih baik daripada pesan tertulis. Penelitian juga membuktikan bahwa panggilan telepon membangun keterhubungan lebih dalam, sehingga Anda intuitif memahami bahwa hubungan manusia butuh nada, jeda, tawa, hingga helaan napas yang tak muncul di layar teks.

2) Anda Lebih Baik dalam Membaca (dan Dibaca) Secara Emosional
Menelepon menunjukkan kepercayaan diri Anda dalam konteks yang kaya emosi karena suara menyimpan isyarat halus seperti nada, intonasi, dan ritme yang sulit disampaikan lewat teks. Riset membuktikan bahwa komunikasi suara meningkatkan akurasi empati, sehingga Anda mampu memahami perasaan orang lain dengan lebih tepat sekaligus memastikan emosi Anda tersampaikan dengan benar. Hal ini membuat Anda mengurangi risiko salah tafsir yang sering terjadi dalam percakapan teks.

3) Anda Peduli pada Kejelasan dan Benci Kesalahpahaman yang Bisa Dihindari
Teks sering kali menimbulkan ambiguitas karena nada sarkasme, humor, atau penolakan halus tidak selalu tersampaikan dengan baik. Penelitian menunjukkan bahwa banyak orang salah menafsirkan emosi lewat teks atau email, sementara suara membantu memperjelas pesan. Dengan menelepon, Anda lebih memilih akurasi daripada membiarkan asumsi berkembang, karena percakapan langsung memungkinkan pertanyaan, klarifikasi, dan perbaikan terjadi seketika sebelum masalah melebar.

4) Anda Tegas dan Berorientasi pada Kolaborasi
Kebiasaan menelepon juga mencerminkan ketegasan Anda dalam memilih media komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan. Menurut Media Synchronicity Theory, tugas yang menuntut kesepahaman dan keputusan cepat lebih efektif dilakukan lewat media sinkron seperti suara. Dengan begitu, Anda terlihat lebih tegas karena mampu memangkas waktu bolak-balik dalam percakapan teks, menyatukan pemahaman, dan segera menggerakkan tindakan bersama.

5) Anda Mengutamakan Kesejahteraan
Orang yang terbiasa menelepon biasanya memiliki naluri peduli, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Penelitian selama pandemi menunjukkan bahwa panggilan telepon singkat mampu menurunkan kesepian, depresi, dan kecemasan hanya dalam hitungan minggu. Hal ini membuktikan bahwa meski dianggap lebih merepotkan, suara justru memberikan dampak besar dalam membangun rasa kebersamaan dan dukungan emosional. Anda secara naluriah menggunakan media yang memperkuat ikatan dengan orang-orang terdekat, rekan kerja, maupun klien.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore