Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Agustus 2025 | 20.43 WIB

Orang yang Sulit Membedakan Video AI dengan Video Palsu Biasanya Menunjukkan 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang sulit membedakan video ai dengan video asli


JawaPos.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat batas antara kenyataan dan manipulasi semakin kabur. 

 
Video hasil AI, yang sering disebut deepfake atau synthetic media, kini mampu menipu mata manusia dengan detail yang hampir sempurna. 
 
Namun, menariknya, tidak semua orang memiliki kemampuan sama untuk mendeteksi mana yang asli dan mana yang palsu.
 
Baca Juga: Orang yang Bisa Belanja Kebutuhan Sehari-hari Tanpa Catatan Biasanya Memiliki 9 Ciri Kepribadian Ini

Dari sudut pandang psikologi, kesulitan ini bukan semata karena keterbatasan teknis, melainkan juga berkaitan erat dengan ciri kepribadian seseorang. 
 
Ada pola psikologis tertentu yang membuat individu lebih mudah terkecoh oleh ilusi digital. 
 
Dilansir dari Geediting pada Senin (18/8), terdapat tujuh ciri kepribadian yang biasanya melekat pada orang-orang yang tidak bisa membedakan video AI asli atau palsu.
 
Baca Juga: Ternyata, Orang yang Sering Memakai Headphone di Tempat Umum Memiliki 9 Ciri Kepribadian yang Menarik!

1. Cenderung Percaya pada Otoritas Tanpa Pertanyaan


Orang dengan kecenderungan tinggi untuk mempercayai otoritas sering kali menerima informasi visual apa adanya. 
 
Jika video tersebut menampilkan tokoh publik, selebriti, atau figur berpengaruh, mereka cenderung langsung percaya tanpa mempertanyakan keaslian. 
 
Psikologi menyebutnya sebagai authority bias, yaitu kecenderungan otak mempercayai apa pun yang dikaitkan dengan sumber berotoritas.

2. Memiliki Pola Pikir yang Lebih Emosional daripada Analitis


Video AI sering dirancang untuk memancing emosi: lucu, mengejutkan, atau bahkan membuat marah. 
 
Individu dengan dominasi pola pikir emosional biasanya fokus pada reaksi perasaan daripada memeriksa detail teknis. 
 
Akibatnya, mereka rentan terkecoh karena tidak terbiasa melakukan analisis kritis ketika emosi sudah terpicu.

3. Kurang Rasa Ingin Tahu (Low Curiosity)


Rasa ingin tahu merupakan bahan bakar utama untuk membongkar sesuatu yang tampak janggal. 
 
Orang dengan tingkat rasa ingin tahu rendah cenderung tidak peduli apakah sebuah video benar atau tidak. 
 
Mereka hanya menonton, percaya, lalu menyebarkannya begitu saja. 
 
Dalam psikologi, ini terkait dengan kepribadian yang kurang terbuka terhadap pengalaman baru (low openness to experience).

4. Lebih Mengutamakan Kecepatan daripada Ketelitian


Di era digital serba cepat, sebagian orang terbiasa mengonsumsi informasi secara instan. 
 
Mereka ingin segera tahu tanpa harus memverifikasi. 
 
Tipe kepribadian yang terburu-buru dan kurang teliti inilah yang membuat mata mereka luput dari detail kecil—misalnya gerakan bibir yang tidak sinkron, bayangan yang aneh, atau suara yang terdengar artifisial.

5. Rentan terhadap Efek Konfirmasi (Confirmation Bias)


Psikologi mengungkap bahwa manusia cenderung mencari bukti yang sesuai dengan keyakinan mereka. 
 
Jadi, jika seseorang sudah punya pandangan tertentu, video AI palsu yang seolah mendukung pandangannya akan langsung dianggap valid. 
 
Inilah mengapa orang yang keras kepala atau terlalu yakin pada pendapat pribadi lebih mudah percaya pada konten manipulatif.

6. Kecenderungan untuk Mengidealkan atau Mengidolakan Sosok Tertentu


Individu yang sangat mengidolakan figur tertentu sering kehilangan objektivitas. 
 
Ketika muncul video palsu yang memperlihatkan idolanya berbicara atau melakukan sesuatu, mereka lebih memilih percaya karena itu sesuai dengan keinginan batin mereka. 
 
Fenomena ini berkaitan dengan parasocial relationship, yaitu keterikatan emosional satu arah pada figur publik.

7. Kurang Terlatih dalam Literasi Digital


Pada akhirnya, kemampuan mendeteksi video AI juga berkaitan dengan literasi digital. 
 
Orang yang jarang berinteraksi dengan teknologi, tidak terbiasa dengan tren digital, atau tidak memiliki bekal pengetahuan dasar mengenai AI cenderung lebih mudah dikelabui. 
 
Dalam psikologi kognitif, ini termasuk keterbatasan pattern recognition, yaitu kemampuan mengenali pola dan ketidakwajaran dalam sebuah informasi visual.

Kesimpulan


Tidak bisa membedakan video AI asli atau palsu bukan sekadar soal mata yang tertipu, melainkan juga cermin kepribadian dan kebiasaan berpikir seseorang. 
 
Mereka yang terlalu percaya pada otoritas, lebih emosional daripada analitis, kurang ingin tahu, terburu-buru, terjebak bias konfirmasi, mengidolakan figur tertentu, atau minim literasi digital, cenderung lebih mudah terperangkap oleh ilusi digital.

Pelajaran pentingnya adalah: kita perlu melatih diri untuk lebih kritis, sabar, dan terbuka. 
 
Dunia digital akan terus berkembang, dan hanya mereka yang mau belajar serta menjaga kewaspadaanlah yang bisa bertahan dari gelombang manipulasi informasi.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore