Ilustrasi seseorang yang selalu membuat percakapan tentang dirinya
JawaPos.com - Dalam dunia sosial, percakapan adalah jembatan yang menghubungkan individu satu dengan yang lain.
Idealnya, percakapan berjalan dua arah: ada yang berbicara dan ada yang mendengarkan.
Namun, kita semua mungkin pernah bertemu atau bahkan akrab dengan seseorang yang tampaknya selalu mengalihkan fokus pembicaraan kepada dirinya sendiri, tidak peduli topik apa yang sedang dibahas.
Menurut psikologi, pola ini bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi bisa menjadi cerminan dari karakter dan dinamika batin tertentu.
Dilansir dari Geediting pada Selasa (29/7), terdapat tujuh ciri yang mungkin dimiliki oleh seseorang yang terus-menerus menjadikan dirinya pusat dari setiap percakapan:
1. Memiliki Kebutuhan Validasi yang Tinggi
Orang yang selalu membicarakan dirinya sendiri seringkali haus akan pengakuan.
Mereka merasa perlu mendapatkan validasi atas pencapaian, pengalaman, atau bahkan penderitaan yang mereka alami.
Dalam psikologi, ini sering kali berkaitan dengan self-esteem yang rapuh — mereka mencari penguatan dari luar karena di dalam, mereka meragukan nilai diri sendiri.
Mereka akan terus menceritakan ulang kisah-kisah tentang keberhasilan atau pengalaman pribadi, berharap orang lain terkesan atau menunjukkan empati, sebagai cara untuk merasa berharga.
Mendengarkan bukan hanya diam saat orang lain berbicara, tetapi benar-benar hadir dan memahami apa yang disampaikan.
Orang yang selalu membuat topik kembali kepada dirinya sendiri umumnya memiliki keterampilan listening yang rendah.
Alih-alih menyimak, mereka hanya menunggu giliran bicara untuk "menyambung" dengan cerita pribadi mereka.
Dalam dunia psikologi komunikasi, ini disebut sebagai conversational narcissism — ketika seseorang mengambil alih percakapan dengan tujuan memusatkan perhatian pada dirinya sendiri.
3. Cenderung Memiliki Ego yang Dominan
Ego yang besar tidak selalu berarti percaya diri, tetapi bisa menunjukkan kecenderungan untuk merasa bahwa dirinya lebih penting dibandingkan orang lain.
Saat seseorang merasa pikirannya, pengalamannya, atau opininya lebih berharga daripada milik orang lain, mereka akan secara refleks mengarahkan semua obrolan kepada diri sendiri.
Dalam percakapan, mereka mungkin tidak sadar bahwa tindakan ini menyiratkan bahwa pengalaman orang lain tidak sepenting yang mereka alami.
4. Kurang Empati Terhadap Orang Lain
Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Ketika seseorang selalu menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian, ini bisa menunjukkan keterbatasan dalam kemampuan empatik.
Alih-alih memberi ruang bagi orang lain untuk berbagi atau merasa didengar, mereka cenderung membelokkan percakapan dan gagal menunjukkan minat yang tulus terhadap cerita atau perasaan orang lain.
5. Mungkin Memiliki Gejala Kepribadian Narsistik Ringan
Dalam beberapa kasus, perilaku ini dapat dikaitkan dengan spektrum gangguan kepribadian narsistik.
Walau tidak semua yang senang membicarakan diri sendiri adalah narsistik secara klinis, beberapa menunjukkan tanda-tanda ringan, seperti merasa istimewa, haus pujian, dan membutuhkan perhatian berlebih.
Psikologi menyebut bahwa orang dengan kecenderungan narsistik ringan sering merasa dunia seharusnya berputar di sekitar mereka.
Percakapan pun dijadikan panggung untuk memamerkan kehebatan atau menggambarkan diri sebagai korban demi mendapatkan simpati.
6. Kurang Kesadaran Diri (Self-Awareness)
Sering kali, orang yang terus membicarakan dirinya sendiri tidak sadar bahwa mereka sedang melakukannya.
Mereka mungkin tidak berniat mengabaikan orang lain, tetapi karena kurangnya kesadaran diri, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah memonopoli pembicaraan.
Kesadaran diri yang rendah membuat seseorang tidak peka terhadap ekspresi wajah, reaksi, atau isyarat nonverbal dari lawan bicara yang mulai bosan atau tersingkir dari percakapan.
7. Menjadikan Diri sebagai Mekanisme Bertahan (Defense Mechanism)
Beberapa orang menggunakan cerita pribadi sebagai bentuk perlindungan emosional.
Alih-alih membahas topik yang membuatnya tidak nyaman atau rentan, mereka dengan cepat mengalihkan topik kepada diri sendiri — terutama topik yang sudah mereka kuasai.
Ini adalah bentuk coping mechanism atau cara bertahan psikologis yang bersifat tidak sadar, biasanya berasal dari pengalaman masa lalu yang membuat mereka sulit mempercayai orang lain atau membuka diri secara sehat.
Kesimpulan: Bukan Selalu Tentang Kesombongan, Tapi Sering Tentang Ketakutan
Meskipun perilaku ini tampak egois di permukaan, psikologi mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam.
Banyak orang yang terus-menerus membicarakan dirinya sendiri sebenarnya sedang berjuang secara emosional: mereka bisa merasa tidak cukup baik, takut diabaikan, atau ingin merasa berarti.
Namun, perlu disadari bahwa hubungan sosial yang sehat membutuhkan keseimbangan.
Jika Anda mengenal seseorang seperti ini — atau menyadari bahwa Anda sendiri punya kecenderungan demikian — mulailah membangun kesadaran dan empati dalam komunikasi.
Karena dalam setiap percakapan, mendengarkan bisa jauh lebih kuat daripada berbicara.