
Ilustrasi seseorang yang menunjukkan gestur tidak nyaman dan menghindari kamera, merefleksikan rasa tidak aman saat difoto./Freepik
JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang selalu menghindari kamera setiap kali ada ajakan berfoto bersama?
Mungkin dia segera bersembunyi di belakang teman atau mencari alasan untuk tidak ikut dalam bidikan lensa. Fenomena ini sebenarnya cukup umum di tengah masyarakat yang sangat visual seperti sekarang.
Di balik penolakan tersebut, seringkali tersimpan berbagai alasan psikologis atau perasaan tidak aman yang mendalam. Mereka mungkin merasa tidak nyaman dengan penampilan diri atau bagaimana orang lain akan menilai hasil fotonya.
Melansir dari Geediting.com Sabtu (28/6), psikologi menunjukkan bahwa ada delapan rasa insecure yang seringkali dimiliki orang yang tidak suka difoto.
Satu di antara alasan paling umum adalah ketidakpuasan mendalam terhadap citra fisik mereka di mata sendiri. Mereka mungkin merasa bagian tertentu dari tubuh atau wajahnya tidak sempurna sehingga tidak ingin diabadikan dalam bentuk foto.
Banyak orang khawatir bahwa hasil foto tidak akan mencerminkan diri mereka dengan baik atau justru membuat mereka terlihat buruk. Kekhawatiran ini bisa memicu rasa cemas berlebihan setiap kali kamera diarahkan kepada mereka.
Beberapa individu percaya bahwa mereka tidak memiliki bakat alami untuk terlihat bagus di depan kamera, atau biasa disebut tidak fotogenik. Perasaan ini membuat mereka menghindari situasi pengambilan gambar agar tidak merasakan kekecewaan atas hasilnya.
Ada kecemasan besar tentang bagaimana foto mereka akan diterima dan dinilai oleh orang lain di media sosial atau lingkup pergaulan. Mereka khawatir akan mendapat kritik atau perbandingan negatif yang bisa melukai harga diri.
Saat difoto, seseorang seringkali merasa kehilangan kendali penuh atas bagaimana citra mereka akan ditampilkan kepada publik. Ini memicu rasa tidak aman karena mereka tidak bisa mengontrol ekspresi, pose, atau sudut pandan yang diambil.
Pengalaman negatif di masa lalu, seperti diejek karena foto tertentu atau hasil yang tidak sesuai harapan, bisa menjadi pemicu keengganan. Memori buruk itu membuat mereka secara otomatis menghindari kamera di kemudian hari.
Individu yang sangat perfeksionis seringkali memiliki standar penampilan yang tidak realistis terhadap diri sendiri. Mereka menginginkan setiap foto terlihat sempurna, sehingga tekanan ini membuat mereka menolak untuk difoto.
Beberapa orang memang memiliki kecenderungan kuat untuk menjaga kehidupan pribadi mereka agar tidak terlalu terekspos ke publik secara luas. Mereka tidak suka merasa rentan atau terlampau terbuka dengan citra diri yang tersebar di mana-mana.
Memahami rasa insecure ini membantu kita lebih peka terhadap perasaan orang-orang di sekitar yang enggan berfoto. Seringkali, penolakan mereka bukan berarti mereka antisosial, melainkan ada perasaan tidak nyaman yang sedang mereka rasakan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
