Ilustrasi pria burnout (freepik)
JawaPos.com - Burnout tidak selalu datang dengan kehancuran besar. Sering kali, hal itu muncul diam-diam, seperti kabut yang datang saat Anda terlalu sibuk untuk memperhatikan perubahan di udara.
Hal itu tidak selalu terlihat dari luar. Beberapa pria masih datang tepat waktu. Masih menyelesaikan pekerjaan. Masih tersenyum saat dibutuhkan. Namun di balik permukaan, mereka bertahan dengan seutas benang.
Dan kenyataannya, kebanyakan pria tidak menyadari bahwa mereka kelelahan sampai sesuatu terjadi. Hubungan. Kesehatan mereka. Motivasi mereka.
Lalu, apa saja sih tanda-tanda atau perilaku yang muncul pada pria yang diam-diam sedang berada di ambang burnout? Simak 10 ciri-cirinya seperti dikutip dari laman geediting.com, Rabu (25/6).
1. Dia selalu 'baik-baik saja,' bahkan ketika dia jelas-jelas tidak baik-baik saja
Ini adalah topeng yang wajib mereka pakai. "Saya baik-baik saja." "Semuanya baik-baik saja." "Jangan khawatir." Padahal, yang benar adalah, dia kehabisan tenaga.
Namun, dia tidak ingin membebani siapa pun, atau lebih buruk lagi, mengakui pada dirinya sendiri bahwa dia tidak baik-baik saja.
2. Dia berhenti melakukan apa pun hanya untuk dirinya sendiri
Ketika kelelahan mulai melanda, hal pertama yang hilang adalah hal-hal yang biasanya mendatangkan kebahagiaan.
Memancing? Terlalu lelah. Pertandingan basket Jumat malam? Tidak ingin melakukannya. Bahkan hobi yang dulu membuatnya bersemangat kini mulai terasa seperti tugas.
Rasanya hidup menjadi satu daftar besar hal yang harus dilakukan, dan tak ada satu pun hal dalam daftar itu yang ditujukan kepadanya.
3. Dia mudah tersinggung karena hal-hal kecil
Orang yang biasa mengabaikan gangguan-gangguan kecil kini membentak barista yang mengacaukan pesanannya. Tapi ini bukan tentang kopi.
Ini tentang kelebihan emosi. Pria yang kelelahan sering kali hidup dalam ketegangan yang konstan. Satu pemicu kecil, dan itu akan meluap.
4. Dia selalu 'terlalu sibuk' untuk teman dan keluarga
Kelelahan memiliki cara yang lucu untuk mengisolasi orang. Pria yang hampir putus cinta sering meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka akan berhubungan lagi 'ketika keadaan sudah tenang.'
Namun, ketenangan itu tidak pernah datang. Jadi, mereka terus menghindari makan malam, menunda panggilan telepon, dan menjauh dari orang-orang yang sebenarnya dapat membantu.
Ini bukan keegoisan. Ini kelelahan yang dibungkus dengan produktivitas. Dan bagian terburuknya, keterasingan itu hanya memperburuk rasa jenuh.
5. Dia lebih mengandalkan jalan pintas untuk mengatasi masalah
Entah itu minum lebih banyak dari biasanya, begadang menonton TV untuk menghilangkan rasa lelah, atau bermalas-malasan di depan ponsel selama berjam-jam, pria yang mengalami kelelahan sering kali mengandalkan kebiasaan tidak sehat hanya untuk bertahan sepanjang hari.
Tidak selalu dramatis. Terkadang hanya butuh satu bir tambahan setiap malam. Atau butuh suara latar terus-menerus agar dia tidak perlu memikirkan pikirannya.
Mekanisme penanganan ini mungkin tampak tidak berbahaya pada awalnya. Namun, mekanisme ini sering kali menutupi kelelahan emosional.
6. Dia tidak tidur nyenyak, meskipun dia selalu lelah
Kelelahan dapat mempermainkan tubuh Anda. Anda kelelahan, tetapi tidak bisa tidur. Atau Anda terbangun pukul 3 pagi dengan pikiran yang tak henti-hentinya dan tidak dapat menenangkan pikiran Anda.
Pria yang sedang mengalami gangguan tidur sering mengatakan hal-hal seperti, "Saya tidak bisa tidur seperti dulu." Dan seiring waktu, kekurangan tidur tersebut menggerogoti segalanya, suasana hati, energi, kejernihan pikiran.
7. Dia menjadi sangat fokus pada produktivitas
Beberapa pria mengatasi kelelahan dengan bekerja lebih keras. Mereka membenamkan diri dalam tugas. Berusaha mengatasi kelelahan dengan menjadi lebih efisien.
Dia mungkin berkata, "Saya hanya ingin tetap sibuk." Namun di balik dorongan itu, dia berusaha keras untuk merasa mampu mengendalikan sesuatu.
Namun, kesibukan tidak sama dengan tujuan. Dan ketika mesin bekerja tanpa tenaga, semua aktivitas itu langsung mengarah pada kelelahan.
8. Dia menghindari segala hal yang emosional
Seorang pria yang kelelahan mungkin masih bisa menangani logistik, tugas, pekerjaan, tetapi tanyakan padanya bagaimana perasaannya, dan Anda akan menemui jalan buntu.
Dia mengalihkan topik pembicaraan. Bercanda. Memberitahu Anda bahwa dia 'terlalu lelah untuk membicarakannya.'
Kelelahan mematikan daya emosi. Bukan berarti dia tidak peduli. Hanya saja dia merasa terlalu tertekan untuk melakukannya.
9. Dia tidak merasa bangga lagi terhadap apa pun
Tanda kelelahan yang tidak kentara adalah hilangnya harga diri. Dia menyelesaikan proyek, memenuhi tenggat waktu, membayar tagihan, tetapi semuanya terasa hambar. Tidak ada rasa pencapaian.
Hanya lega karena tugas lain telah selesai. Ketika seorang pria berhenti merasa bangga terhadap dirinya sendiri, bahkan untuk hal-hal kecil, biasanya itu pertanda ia tidak punya lagi semangat dalam dirinya.
10. Dia terus berkata pada dirinya sendiri bahwa dia hanya perlu 'terus maju'
Ini mungkin tanda bahaya terbesar dari semuanya. Alih-alih melambat, meminta bantuan, atau beristirahat, ia terus maju. Terus melaju.
Karena di suatu tempat, ia belajar bahwa istirahat sama dengan kelemahan. Namun, kelelahan tidak memberi penghargaan pada ketangguhan. Ia menghukum penyangkalan.
Kekuatan sejati bukanlah tentang mengabaikan tanda-tanda peringatan. Melainkan tentang mengakuinya, dan membuat perubahan yang dibutuhkan untuk menyembuhkan.