Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Juni 2025 | 16.51 WIB

Etika Menghadapi Teman Bermuka Dua: Tetap Sopan, Tapi Jangan Ragu untuk Jaga Jarak

Ilustrasi teman bermuka dua. (Pexels) - Image

Ilustrasi teman bermuka dua. (Pexels)

JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, baik di lingkungan kerja maupun pertemanan sehari-hari, kita kadang dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman. Salah satunya, bertemu orang yang terlihat ramah dan menyenangkan di depan, tapi ternyata bersikap sebaliknya di belakang. Istilah populernya: bermuka dua. Lantas, bagaimana etika sosial memandang perilaku semacam ini?

Hubungan sosial yang sehat dibangun atas dasar kejujuran. Sayangnya, tak semua orang mampu atau mau membangun relasi yang tulus. “Ada orang yang manis di depan tapi menusuk di belakang. Itu bukan strategi cerdas, tapi tanda bahwa ia belum siap membangun relasi yang dewasa,” ujar trainer Hearty Service Dr (Cand) A.S. Mayangsari. 

Dalam perspektif etiket, Agni mengutip pakar klasik Emily Post, yang mengatakan bahwa bersikap sopan bukan berarti boleh bersikap palsu. Kesopanan sejati tidak seharusnya menjadi topeng untuk manipulasi. Justru, saat sopan santun digunakan sebagai alat untuk menutupi niat buruk, di situlah esensi etika dilanggar. 

Jangan Langsung Konfrontasi dan Emosi 

Ketika kita menyadari bahwa seseorang bersikap dua muka kepada kita, langkah pertama yang bijak bukanlah konfrontasi. “Jangan langsung bereaksi apalagi kalau emosi. Tenangkan diri dulu, cernalah informasi dengan jernih,” saran Agni. Menurutnya, penting untuk memastikan konteks dan konsistensi perilaku itu sebelum mengambil keputusan. 

Kalaupun ingin mengonfrontasi, lakukan dengan niat yang tepat. “Kalau tujuannya klarifikasi, itu baik. Ajak bicara empat mata, sampaikan dengan kalimat netral. Jangan di depan orang lain, dan hindari nada menyerang,” lanjutnya. Keterbukaan penting, tapi cara penyampaiannya harus menjaga martabat kedua belah pihak.  

Yang terpenting, menurut Agni, adalah menjaga diri agar tidak ikut hanyut dalam drama. “Kalau kita balas dengan emosi, yang tercoreng justru kita sendiri. Tahan diri bukan berarti lemah, tapi bukti kita punya kendali atas diri,” tegasnya. Dalam banyak kasus, diam yang tenang jauh lebih kuat dari balasan yang heboh.

Jaga Jarak Hubungan 

Bagaimana jika kita memilih menjaga jarak? Agni menegaskan bahwa set boundaries itu sah-sah saja dan tetap etis. Di lingkungan kerja atau komunitas, menjaga batasan adalah bentuk menjaga kedamaian batin tanpa menyalahi norma.

“Kita bisa tetap sopan, tetap menyapa, tapi tidak membuka ruang terlalu dekat. Itu bukan permusuhan, tapi perlindungan,” jelasnya.  

Menjaga relasi sehat tak harus berarti selalu dekat. Agni menekankan pentingnya tahu kapan harus berkata 'cukup'. “Kita bisa menolak dengan baik, membatasi tanpa menyakiti. Jangan terlalu sering memaksa diri menyenangkan semua orang karena akhirnya kita hanya akan mengecewakan diri sendiri,” tambahnya. 

Lalu bagaimana mengenali teman yang tulus? Agni menyarankan untuk melihat konsistensi. Teman yang tulus akan membuat rasa aman. "Yang pura-pura baik biasanya meninggalkan rasa tak nyaman, karena tindakannya sering tak sejalan dengan ucapannya," sambungnta.

Dalam memilih teman, Agni mengingatkan bahwa kualitas hubungan ditentukan oleh rasa aman, bukan frekuensi pertemuan. “Teman yang tulus adalah kemewahan. Pilih yang membuat kita bisa jadi diri sendiri tanpa rasa curiga. Jangan ragu menjaga jarak dari yang meragukan,” ujarnya.

Bagi yang terjebak dalam lingkungan sosial penuh kepura-puraan, Agni memberikan tiga tips sederhana. Pertama, jaga jarak secara halus. Kedua, kurangi ekspektasi dan perkuat observasi. Ketiga, jangan balas drama dengan drama, tapi balas dengan kendali. “Tingkah orang lain di luar kendali kita, tapi respon kita selalu bisa kita pilih,” katanya. 

Terakhir, dia menekankan pentingnya menjaga integritas pribadi. “Kita tak bisa memilih siapa yang ada di sekitar kita, tapi kita bisa memilih siapa yang kita izinkan memengaruhi nilai-nilai kita,” jelasnya. Di tengah lingkungan penuh basa-basi, menjaga keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan adalah bentuk etika tertinggi.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore