Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Juni 2025 | 20.08 WIB

Kurang Tidur Bisa Bikin Kesepian, Begini Penjelasan Psikologisnya

Seorang remaja berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosong, menggambarkan perasaan kesepian yang kerap dialami generasi muda akibat kurang tidur. (Dok. Canva) - Image

Seorang remaja berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosong, menggambarkan perasaan kesepian yang kerap dialami generasi muda akibat kurang tidur. (Dok. Canva)

JawaPos.com - Masalah tidur seringkali dianggap sebagai persoalan yang remeh, terutama para remaja. Tak heran begadang menjadi hal yang sangat lumrah untuk dilakukan. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa gangguan tidur pada remaja bisa berujung pada rasa kesepian yang mendalam. Bukan hanya itu, ada dua jalur psikologis yang ternyata menjadi penghubung antara tidur yang terganggu dan rasa kesepian, yaitu ruminasi dan resiliensi.

Menurut laporan dari Applied Psychology: Health and Well-Being, peneliti menemukan bahwa remaja yang mengalami gangguan tidur cenderung lebih sering terjebak dalam pikiran negatif (ruminasi), serta memiliki daya tahan mental (resiliensi) yang lebih rendah. Kombinasi ini membuat mereka lebih rentan merasa kesepian, bahkan ketika dikelilingi banyak orang.

Dikutip dari PsyPost, penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap. Studi pertama melibatkan 883 siswa di Wuhan, Tiongkok, yang mengisi kuesioner mengenai kualitas tidur, ruminasi, resiliensi, dan rasa kesepian. Hasilnya, semakin buruk kualitas tidur seorang remaja, semakin besar pula kecenderungannya untuk mengalami ruminasi dan merasa kesepian. Menariknya, ruminasi juga tampak menurunkan tingkat resiliensi.

“Remaja yang terlalu sering memikirkan hal-hal negatif akan kesulitan untuk bangkit dari tekanan, dan ini memperkuat rasa kesepian yang mereka alami,” demikian penjelasan para peneliti dalam laporan tersebut.

Penelitian kedua dilakukan secara longitudinal selama 18 bulan pada 94 remaja. Hasilnya menunjukkan bahwa masalah tidur di awal penelitian dapat memprediksi rasa kesepian di masa depan. Meski hubungan lengkap dari tidur → ruminasi → resiliensi → kesepian tidak terlalu kuat dalam jangka panjang, pola tersebut tetap menunjukkan pengaruh psikologis yang signifikan.

Untuk memperkuat hasil, studi ketiga dilakukan dalam rentang waktu tujuh minggu pada 242 remaja. Kali ini, hubungan antara gangguan tidur dan kesepian tampak lebih nyata. Sleep problem terbukti meningkatkan ruminasi, yang kemudian menurunkan resiliensi dan akhirnya memperparah kesepian. Jalur psikologis ini lebih terasa dalam jangka pendek, menunjukkan bahwa dampak gangguan tidur bisa langsung memengaruhi kondisi emosional seseorang.

Para peneliti menekankan bahwa masa remaja adalah periode krusial dalam perkembangan emosi dan sosial. Kurang tidur tak hanya memengaruhi konsentrasi atau suasana hati, tapi juga kemampuan remaja untuk menghadapi tekanan dan membangun koneksi sosial yang bermakna.

Meski begitu, studi ini memiliki keterbatasan. Karena hanya melibatkan responden dari Tiongkok dan dilakukan selama atau setelah pandemi COVID-19, efek isolasi sosial mungkin memperkuat hasil yang diperoleh. Selain itu, penelitian ini bersifat observasional, sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara pasti.

Namun demikian, temuan ini membuka jalan bagi pendekatan baru dalam menjaga kesehatan mental remaja. Intervensi sederhana seperti memperbaiki kualitas tidur bisa menjadi langkah awal yang efektif untuk mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan ketahanan mental anak muda.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore