Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Juni 2025 | 14.44 WIB

Waspadai 5 Taktik Licik dalam Perdebatan yang Sering Digunakan Seorang Narsistik

Ilustrasi percakapan emosional antara dua orang yang sedang berdebat, menggambarkan dinamika hubungan dengan individu narsistik. (Dok. Canva) - Image

Ilustrasi percakapan emosional antara dua orang yang sedang berdebat, menggambarkan dinamika hubungan dengan individu narsistik. (Dok. Canva)

JawaPos.com - Dalam setiap perdebatan, kita tentu berharap argumen yang dilontarkan berpijak pada logika dan fakta. Namun, harapan tersebut bisa buyar ketika berhadapan dengan seseorang yang memiliki sifat narsistik. Alih-alih berdiskusi secara terbuka dan sehat, mereka justru menggunakan taktik-taktik manipulatif demi mempertahankan citra diri yang berlebihan.

Menurut laporan dari Forbes yang ditulis oleh psikolog Mark Travers, individu narsistik cenderung sangat meyakini bahwa pendapat mereka selalu benar. Bahkan, penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychology tahun 2023 menemukan bahwa mereka memiliki tingkat intellectual humility atau kerendahan hati intelektual yang sangat rendah. Inilah yang membuat mereka kerap bersikap defensif, atau bahkan agresif, ketika dihadapkan pada pandangan berbeda.

Tak hanya itu, studi lainnya yang dipublikasikan di jurnal Memory & Cognition tahun 2024 menyebutkan bahwa mereka juga mudah terjebak dalam confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk mempercayai informasi yang memperkuat keyakinan pribadi. Kondisi ini membuka jalan bagi berbagai taktik berdebat yang menyesatkan.

Berikut lima taktik berdebat yang kerap digunakan oleh individu narsistik untuk menghindari tanggung jawab dan mengendalikan jalannya percakapan:

1. Serangan Pribadi (Ad Hominem)

Alih-alih menanggapi isi argumen, pelaku ad hominem memilih menyerang kepribadian, emosi, atau masa lalu lawan bicaranya. Misalnya, saat Anda menyampaikan keberatan atas sikap manipulatif mereka, mereka bisa saja menjawab, “Kamu itu cuma iri dan terlalu sensitif, makanya kamu ribut soal ini.”

Tanggapan seperti ini tidak menjawab inti permasalahan. Sebaliknya, mereka berusaha membuat Anda merasa bersalah atau tidak valid hanya karena menyampaikan kritik.

2. Dikotomi Palsu (False Dichotomy)

Taktik ini menyederhanakan masalah kompleks menjadi dua pilihan ekstrem, seolah tak ada ruang bagi kompromi. Contohnya, jika Anda tidak setuju dengan pendapat mereka, mereka mungkin berkata, “Kalau kamu nggak setuju, berarti kamu menentang aku.”

Dengan logika sempit seperti ini, narasi dipaksa ke dalam ‘kami vs mereka’, yang membuat percakapan menjadi buntu dan tidak produktif.

3. Menyederhanakan Argumen Lawan (Straw Man Argument)

Alih-alih merespons pernyataan secara jujur, pelaku strawman justru mengubah atau melebih-lebihkan maksud lawan bicara agar lebih mudah diserang. Misalnya, ketika Anda berkata bahwa sikap mereka menyakiti Anda, mereka bisa bereaksi, “Jadi sekarang aku ini orang paling jahat, gitu?”

Dengan menyulap kritik menjadi tuduhan ekstrem, mereka memaksa Anda sibuk meredakan situasi, bukan melanjutkan diskusi yang substansial.

4. Mengalihkan Topik (Red Herring)

Ketika merasa terpojok, seorang narsistik akan mencoba mengalihkan perhatian Anda ke isu lain yang tidak relevan. Misalnya, ketika Anda membahas perilaku kasar mereka, mereka bisa memutar balik dengan, “Tapi kamu juga pernah lupa ulang tahunku, ingat nggak?”

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore