Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Mei 2025 | 05.26 WIB

5 Alasan Seseorang Menetap pada Hubungan dengan Batasan yang Tidak Sehat dan Ragu untuk Keluar Darinya

Ilustrasi alasan seseorang menetap pada hubungan dengan batasan tidak sehat (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi alasan seseorang menetap pada hubungan dengan batasan tidak sehat (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Banyak dari kita mungkin pernah mengalami kesulitan dalam menjaga batasan yang sehat, dan ada beragam alasan mengapa hal ini bisa terjadi. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya kesadaran tentang pentingnya batasan dalam menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental.

Tanpa pemahaman yang cukup, seseorang kemungkinan membiarkan orang lain melewati batas pribadi mereka, baik secara fisik, emosional, maupun finansial.

Dikutip dari Help Guide, berikut ini beberapa alasan seseorang menetap pada hubungan dengan batasan yang tidak sehat dan ragu untuk keluar darinya.

1. Keinginan Mengendalikan

Dalam hubungan romantis, rasa aman emosional memegang peranan besar guna membangun koneksi yang kuat dan sehat. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang merasa ragu untuk terbuka secara emosional kepada pasangannya karena dihantui oleh ketakutan akan penolakan atau ditinggalkan.

Ketika kamu merasa bahwa kekurangan atau kelemahan pribadi mampu membuat pasangan berpaling, wajar jika muncul dorongan menyembunyikan perasaan atau berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Namun, ketidakjujuran emosional semacam ini justru bisa menciptakan jarak dalam hubungan. Rasa takut ini sering kali berakar dari pengalaman masa lalu, rendahnya rasa percaya diri, atau luka emosional yang belum sepenuhnya pulih.

Padahal, membangun kedekatan sejati dalam hubungan hanya mungkin terjadi apabila kedua belah pihak bersedia berbagi perasaan, termasuk ketidaksempurnaan dan kerentanan. Menjadi terbuka bukan berarti lemah, tetapi justru menampakkan keberanian dan kepercayaan terhadap pasangan.

2. Takut Ditolak

Walau batasan seharusnya menjaga kenyamanan dalam hubungan, tak jarang ada yang menggunakannya secara tidak sehat. Dalam beberapa kasus, batasan dijadikan alat manipulasi misalnya, dengan bersikap dingin atau menolak berkomunikasi demi menekan orang lain agar menuruti keinginannya.

Padahal, batasan yang sehat dibangun atas rasa saling menghormati, bukan sebagai bentuk kontrol. Jika kamu merasa batasan seseorang justru membuatmu tertekan atau bersalah, itu dapat menjadi tanda adanya dinamika hubungan yang tidak sehat. Mengenali perbedaan antara batasan yang sehat dan manipulatif penting demi menjaga hubungan tetap jujur, terbuka, dan saling mendukung.

3. Kurangnya Pengalaman dalam Menetapkan Batasan

Membangun batasan pribadi yang sehat bisa menjadi hal yang menantang, terutama jika kamu dibesarkan di lingkungan yang tidak menghargai privasi atau ruang pribadi. Apabila sejak kecil kamu terbiasa melihat orang tua atau saudara kandung melanggar batas, seperti sering masuk ke kamar tanpa izin atau ikut campur dalam urusan pribadi, mungkin dirimu menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Akibatnya, kamu dapat tumbuh tanpa pemahaman yang jelas tentang bagaimana menetapkan atau menghormati batasan dalam hubungan dengan orang lain. Tanpa disadari, kamu pun bisa mengulangi pola serupa dalam kehidupan dewasa baik sebagai pelaku maupun sebagai orang yang kesulitan berkata tidak.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore