Ilustrasi perempuan yang merasa cemas dengan tugas di hadapannya (Dok. SEO Galaxy/Unsplash)
JawaPos.com - ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan istilah medis yang merujuk pada gangguan mental berupa perilaku impulsif dan hiperaktif. Pada umumnya, ADHD dapat membuat seseorang kesulitan untuk berkonsentrasi atau memusatkan perhatian dalam satu waktu.
Gejala ADHD bisa ditemui saat masa kanak-kanak dan dapat menimpa siapa saja. Akan tetapi, perempuan yang menderita ADHD seringkali terabaikan karena gejala yang dialami berbeda dari ciri-ciri umum yang biasa dikaitkan dengan gangguan mental ini.
Apalagi, dilansir dari Pharmacy Times, sejarah pengembangan pengetahuan akan ADHD telah lama bias gender karena difokuskan pada anak laki-laki yang dianggap memiliki gejala yang lebih terlihat dibanding perempuan.
Akibatnya, banyak perempuan yang sebenarnya menderita ADHD namun mengalami kesalahan diagnosis atau bahkan tidak terdiagnosis sama sekali.
Dikutip dari laman Relational Psych, ada beberapa alasan mengapa gejala ADHD pada perempuan sering disalahpahami, yaitu:
1. Ekspektasi Sosial dan Norma Gender
Sedari kecil, anak perempuan sering diekspektasikan agar menjadi patuh, penurut, dan pendiam. Hal ini dapat membuat mereka menutupi gejala ADHD yang mereka rasakan sehingga dapat berujung pada tingkat kepercayaan diri yang rendah, gangguan kecemasan, hingga depresi.
Di masa dewasa, ekspektasi yang dibebankan kepada perempuan untuk menjalankan berbagai peran mulai dari bekerja, mengurus rumah tangga, dan mengasuh anak juga dapat memperburuk gejala ADHD.
Karena merasa berkewajiban untuk memenuhi ekspektasi atau standar tersebut, banyak perempuan pada akhirnya tetap abai terhadap gejala ADHD yang dialami sehinga tidak mendapat diagnosis atau perawatan yang semestinya.
2. Gejala ADHD yang Terlihat Berbeda
ADHD pada perempuan cenderung lebih terinternalisasi dibandingkan pada laki-laki. Mereka berjuang dalam menghadapi:
Gejala-gejala ini tidak selalu sesuai dengan pandangan stereotip ADHD, sehingga perempuan sangat mungkin didiagnosis dengan kondisi lain seperti depresi. Akibatnya, ADHD yang menjadi akar permasalahan pun tidak teratasi sama sekali.
3. Perubahan Hormon
Fluktuasi hormon sepanjang kehidupan perempuan juga dapat berdampak pada gejala ADHD. Pada masa pubertas misalnya, anak-anak perempuan dapat terlihat memiliki gejala ADHD namun tidak dianggap serius karena diangga sebagai perubahan tingkah laku remaja.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
