Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Mei 2025 | 22.05 WIB

Mengapa ADHD pada Perempuan Seringkali Tidak Terdiagnosis? Kenali Penyebab dan Gejalanya Ini

Ilustrasi perempuan yang merasa cemas dengan tugas di hadapannya (Dok. SEO Galaxy/Unsplash)

JawaPos.com - ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan istilah medis yang merujuk pada gangguan mental berupa perilaku impulsif dan hiperaktif. Pada umumnya, ADHD dapat membuat seseorang kesulitan untuk berkonsentrasi atau memusatkan perhatian dalam satu waktu. 

Gejala ADHD bisa ditemui saat masa kanak-kanak dan dapat menimpa siapa saja. Akan tetapi, perempuan yang menderita ADHD seringkali terabaikan karena gejala yang dialami berbeda dari ciri-ciri umum yang biasa dikaitkan dengan gangguan mental ini.

Apalagi, dilansir dari Pharmacy Times, sejarah pengembangan pengetahuan akan ADHD telah lama bias gender karena difokuskan pada anak laki-laki yang dianggap memiliki gejala yang lebih terlihat dibanding perempuan.

Akibatnya, banyak perempuan yang sebenarnya menderita ADHD namun mengalami kesalahan diagnosis atau bahkan tidak terdiagnosis sama sekali.

Dikutip dari laman Relational Psych, ada beberapa alasan mengapa gejala ADHD pada perempuan sering disalahpahami, yaitu:

1. Ekspektasi Sosial dan Norma Gender

Sedari kecil, anak perempuan sering diekspektasikan agar menjadi patuh, penurut, dan pendiam. Hal ini dapat membuat mereka menutupi gejala ADHD yang mereka rasakan sehingga dapat berujung pada tingkat kepercayaan diri yang rendah, gangguan kecemasan, hingga depresi.

Di masa dewasa, ekspektasi yang dibebankan kepada perempuan untuk menjalankan berbagai peran mulai dari bekerja, mengurus rumah tangga, dan mengasuh anak juga dapat memperburuk gejala ADHD. 

Karena merasa berkewajiban untuk memenuhi ekspektasi atau standar tersebut, banyak perempuan pada akhirnya tetap abai terhadap gejala ADHD yang dialami sehinga tidak mendapat diagnosis atau perawatan yang semestinya.

2. Gejala ADHD yang Terlihat Berbeda

ADHD pada perempuan cenderung lebih terinternalisasi dibandingkan pada laki-laki. Mereka berjuang dalam menghadapi:

  • Kurangnya perhatian, sulit fokus, mudah lupa, dan tidak teratur,
  • Hiperaktif yang dapat termanifestasi sebagai kecemasan dan ketidakmampuan untuk rileks,
  • Impulsivitas dalam bentuk verbal seperti menyela orang lain atau kesulitan menahan pikiran dan emosi,
  • Regulasi emosi yang kacau karena perempuan dengan ADHD sering mengalami emosi yang intens dan perubahan suasan hati,
  • Kesulitan dalam manajemen waktu, perencanaan, dan pengorganisasian.

Gejala-gejala ini tidak selalu sesuai dengan pandangan stereotip ADHD, sehingga perempuan sangat mungkin didiagnosis dengan kondisi lain seperti depresi. Akibatnya, ADHD yang menjadi akar permasalahan pun tidak teratasi sama sekali.

3. Perubahan Hormon

Fluktuasi hormon sepanjang kehidupan perempuan juga dapat berdampak pada gejala ADHD. Pada masa pubertas misalnya, anak-anak perempuan dapat terlihat memiliki gejala ADHD namun tidak dianggap serius karena diangga sebagai perubahan tingkah laku remaja. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore