Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Mei 2025 | 06.40 WIB

Ternyata Ini Macam-Macam Puasa Kejawen, Tidak Hanya Puasa Mutih Saja

Ternyata Ini Macam-Macam Puasa Kejawen, Tidak Hanya Puasa Mutih Saja (vecstock/Freepik)

JawaPos.com - Setiap tradisi memiliki caranya sendiri dalam menjernihkan batin dan memperkuat jiwa, termasuk dalam budaya Jawa.

Salah satu bentuk laku spiritual yang masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Jawa hingga kini adalah puasa Kejawen.

Meski tidak wajib seperti puasa dalam agama, puasa Kejawen memiliki makna dan tujuan yang dalam, terutama untuk mereka yang sedang mencari ketenangan, kekuatan batin, atau bahkan ilmu spiritual.

Dalam budaya Jawa, dikenal beberapa jenis puasa adat yang masing-masing memiliki tata cara dan tujuan berbeda.

Menariknya, puasa-puasa ini bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga mengajarkan tentang pengendalian diri dan kesadaran spiritual yang tinggi.

Berdasarkan penjelasan dari salah satu video mengenai puasa kejawen di kanal youtube Sabdaning Ratu, setidaknya ada empat jenis puasa Kejawen yang cukup dikenal, antara lain, puasa Pati Geni ,puasa Ngelowong, puasa Ngebleng, dan Puasa Mutih

1.Puasa Pati Geni: Puasa Pati Geni bisa dibilang sebagai puasa Kejawen yang paling berat. Kata "Pati" berarti mati, dan "Geni" berarti api. Jadi, secara harfiah, puasa ini bertujuan untuk “mematikan api”, yang dimaknai sebagai mematikan hawa nafsu, hasrat duniawi, dan energi negatif dalam diri. Tujuan puasa ini pun cukup luas, mulai dari ingin mendapatkan ilmu gaib, mendekatkan diri pada kekuatan spiritual, hingga mempermudah jodoh.

Tata cara puasa Pati Geni sangat ketat. Tidak hanya menahan makan dan minum, orang yang menjalankan juga tidak boleh tidur, serta harus mengurung diri dalam kamar gelap tanpa cahaya sedikit pun, bahkan dari lilin. Durasi minimalnya adalah 1 x 24 jam, dan bisa dilakukan selama 3, 5, 7 hari atau lebih, tergantung kemampuan. Karena beratnya, puasa ini sangat tidak disarankan untuk orang yang kondisi fisiknya lemah atau memiliki riwayat penyakit.

2. Puasa Ngelowong: Puasa Ngelowong adalah jenis puasa Kejawen yang jauh lebih ringan. “Lowong” berarti kosong atau longgar. Puasa ini hanya mengharuskan seseorang untuk tidak makan dan minum selama 24 jam, namun masih diperbolehkan tidur sekitar tiga jam dan menjalani aktivitas harian seperti biasa. Tidak ada bacaan niat khusus untuk puasa ini, dan bisa dilakukan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan. Tujuan utamanya adalah untuk membersihkan jiwa, mengurangi hawa nafsu, dan menenangkan pikiran.

3. Puasa Ngebleng: Dalam primbon Jawa, puasa Ngebleng dikenal sebagai puasa yang paling berat dan ekstrem. Kata “ngebleng” sendiri memiliki arti berhenti total atau tidak melakukan apa pun. Maka dari itu, saat menjalani puasa ini, seseorang tidak diperbolehkan makan, minum, tidur, bahkan tidak boleh berbicara atau keluar dari tempatnya. Tempat pelaksanaannya pun tidak boleh sembarangan, biasanya dilakukan di ruang yang gelap, sunyi, dan tidak ada penerangan atau suara.

Puasa ini umumnya dilakukan selama minimal tiga hari berturut-turut tanpa putus, dan dimulai dari hari kelahiran (weton) pelaku. Namun, ada juga yang menjalaninya lebih lama sesuai kemampuan masing-masing. 

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore