Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 April 2025 | 22.02 WIB

Sudah Dewasa tapi Perilaku Masih Kekanak-Kanakan, Kenali Ini 7 Ciri-Cirinya

Ilustrasi dewasa tapi kekanak-kanakan. (Freepik) - Image

Ilustrasi dewasa tapi kekanak-kanakan. (Freepik)

JawaPos.com-  Kita semua pasti bertambah usia, tapi apakah kedewasaan emosional kita selalu mengikuti? Sering kali, tanpa sadar, kita masih mempertahankan perilaku kekanak-kanakan. Kita mungkin merasa sudah dewasa karena telah mencapai fase kehidupan seperti mendapatkan pekerjaan atau membangun keluarga.

Namun, pertumbuhan emosional? Itu adalah tantangan yang berbeda. Menjadi dewasa secara emosional bukan berarti meninggalkan keceriaan masa kecil, melainkan tentang bagaimana kita mengelola emosi dan merespons orang lain dengan cara yang sehat dan dewasa. Sayangnya, ada perilaku-perilaku tertentu yang justru membuat kita terjebak di masa kanak-kanak secara emosional.

Dilansir dari laman Parent From Heart, berikut adalah tujuh perilaku yang biasanya muncul pada orang-orang yang tanpa sadar tetap bersikap kekanak-kanakan seiring bertambahnya usia. Mari kita kenali tanda-tanda ini dalam diri kita sendiri, supaya kita bisa bergerak menuju kedewasaan emosional yang kita impikan.

1. Suka Menyalahkan Orang Lain

Salah satu tanda pertama dari ketidakdewasaan emosional adalah kebiasaan menyalahkan orang lain. Semakin bertambah usia, idealnya kita belajar untuk bertanggung jawab atas kesalahan sendiri itu bagian dari menjadi dewasa. Namun, mereka yang masih kekanak-kanakan secara emosional sering kali sulit untuk melakukan hal ini.

Mereka lebih memilih untuk menunjuk orang lain sebagai kambing hitam daripada mengakui kesalahan sendiri. Bagi mereka, menerima kesalahan dan menghadapi konsekuensinya terasa terlalu berat. Padahal, mengakui kesalahan itu penting agar kita bisa belajar dan berkembang.

2. Kesulitan Berempati

Empati adalah kunci dari kedewasaan emosional. Ini tentang kemampuan untuk memahami perasaan orang lain dan merespons dengan penuh pengertian. Namun, mereka yang masih kekanak-kanakan secara emosional sering kesulitan dalam hal ini. Kurangnya empati ini membuat hubungan dengan orang lain jadi dangkal dan sulit untuk benar-benar dekat.

3. Sulit Mengendalikan Emosi

Mengatur emosi adalah bagian penting dari kedewasaan emosional. Mereka yang emosinya masih kekanak-kanakan biasanya sulit menjaga keseimbangan emosi mereka. Ketika senang, mereka berlebihan ketika sedih, mereka terpuruk seolah dunia runtuh. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa kemampuan mengatur emosi berhubungan erat dengan kesehatan fisik.

Mereka yang kesulitan mengendalikan emosi lebih rentan terhadap berbagai penyakit, seperti penyakit jantung dan diabetes. Dalam hidup, pasang surut adalah hal biasa. Belajar mengendalikannya dengan tenang adalah bagian penting dari menjadi dewasa secara emosional.

4. Membutuhkan Validasi Terus-Menerus

Seiring bertambah usia, kita seharusnya belajar membangun rasa percaya diri dari dalam diri sendiri. Namun, orang yang belum dewasa secara emosional masih sangat bergantung pada pengakuan dari luar. Mereka terus mencari pujian, sanjungan, atau persetujuan agar merasa berharga.

Tidak ada salahnya menikmati pujian sesekali, tapi kalau rasa harga diri sepenuhnya bergantung pada orang lain, itu pertanda kita belum membangun fondasi kepercayaan diri yang sehat. Mengenali kecenderungan ini dalam diri sendiri bisa menjadi langkah awal untuk membangun harga diri yang kuat dari dalam.

5. Menghindari Percakapan Sulit

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore