Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 April 2025 | 23.04 WIB

Arti Delulu yang Sedang Tren: Apakah Benar Delulu is Solulu? Ini yang Pakar Katakan

Ilustrasi seseorang yang sedang delulu (Dok. Pexels)

JawaPos.com - Istilah delulu (kependekan dari delusional) awalnya populer di kalangan fans K-Pop yang percaya bisa punya hubungan spesial dengan idolanya. Kini, generasi Z mengubah maknanya jadi strategi mental: "Delulu is the solulu!"—seolah khayalan bisa jadi solusi masalah.

Dilansir dari VeryWellMind.com pada Selasa (22/04), psikolog memperingatkan bahwa delulu thinking ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, bisa memotivasi, tapi di sisi lain berisiko membuat seseorang lari dari kenyataan. Seperti mimpi punya mobil mewah tanpa menabung, apakah ini sehat atau justru bumerang?

Dari K-Pop ke TikTok: Asal-Usul Fenomena Delulu

Awalnya, delulu adalah candaan fans K-Pop yang mengkhayalkan diri dekat dengan idolanya—misalnya, percaya suatu hari akan dilamar oleh BTS atau Blackpink. Tapi sejak 2022, tren ini berevolusi jadi gaya berpikir Gen Z di TikTok. Mereka meyakini, dengan 'berkhayal sepenuh hati', keinginan akan jadi kenyataan.

Psikolog klinis Rachel Hoffman menjelaskan, delulu dalam konteks medis sangat berbeda dengan tren ini. Gangguan delusional adalah kondisi serius di mana seseorang tetap percaya pada hal tidak nyata meski ada bukti sebaliknya. Sedangkan delulu ala Gen Z lebih mirip manifestasi ekstrem—seperti yakin bakal jadi CEO padahal belum pernah kerja.

Bahaya di Balik Mindset 'Delulu Solulu'

Minaa B., terapis sosial, memperingatkan bahwa terlalu sering delulu bisa membuat seseorang enggan mengambil tindakan nyata. Misal, percaya diri akan diterima kerja di Google tanpa pernah mengirim CV, atau berharap pacaran dengan si doi cuma lewat likes Instagram. Ini ibarat membangun rumah di awan—indah di angan, tapi rapuh di realita.

Studi tahun 2018 dalam Journal of Personality and Social Psychology membuktikan, menerima emosi negatif (seperti gagal atau kecewa) justru membuat mental lebih tangguh. Artinya, sehatkan khayalan dengan tindakan konkret. Jangan seperti "ngebet motor sport tapi malas nabung"—khayalan tak akan mengisi dompet!

Kapan Berkhayal Boleh Dilakukan?

Dr. Hoffman menegaskan, delulu thinking tidak sepenuhnya buruk selama proporsional. Misalnya, membayangkan presentasi sukses bisa meningkatkan kepercayaan diri, asal diikuti persiapan matang. Analoginya seperti atlet: visualisasi juara penting, tapi latihan fisik tetaplah kunci.

Psikolog menyarankan 'delulu sehat' dengan tiga syarat: (1) jadikan khayalan sebagai motivasi, bukan pelarian, (2) imbangi dengan evaluasi realitas "Apa bukti bahwa ini mungkin?", dan (3) terima jika hasil tak sesuai harapan. Contoh: "Aku yakin bisa naik jabatan, tapi jika belum kesampaian, aku akan cari penyebabnya."

Tips Berkhayal Tanpa Kehilangan Realita

Catat pencapaian kecil: Alih-alih hanya memimpinkan gaji Rp50 juta, buat target realistis seperti "Skill Excel harus lancar dalam 3 bulan".

Gabung komunitas: Jika delulu-mu ingin jadi penyanyi, ikut les vokal atau open mic—jangan cuma nyanyi di kamar mandi!

Refleksi mingguan: Tanyakan, "Apa yang sudah aku lakukan minggu ini untuk mendekati khayalanku?"

Delulu thinking ibarat bumbu penyedap hidup—sedikit bisa memotivasi, tapi kebanyakan justru merusak 'rasa'. Kuncinya adalah balance: bermimpi setinggi langit, tapi akar tetap tertanam di tanah.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore