Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 April 2025 | 16.46 WIB

Percikan Cinta di Pertemuan Pertama: Benarkah Chemistry Romantis Bisa Terwujud pada Pandangan Pertama?

Ilustrasi pasangan dengan chemistry yang tinggi (Dok. Pexels)

JawaPos.com - Pernah merasakan degup jantung berdetak kencang saat pertama kali bertemu seseorang? Itulah yang sering disebut chemistry romantis—percikan misterius yang membuat dua orang saling tertarik. Namun, di era dimana dating app seperti Tinder atau Bumble mendominasi, apakah chemistry masih bisa dirasakan hanya lewat foto dan chat singkat?

Dilansir dari VeryWellMind.com pada Selasa (22/04), chemistry bukan sekadar ketertarikan fisik. Ini adalah kombinasi dari emosi, intelektual, dan nilai-nilai yang membuat kita merasa 'nyambung' dengan pasangan. Seperti kopi dan susu yang awalnya terpisah, tapi ketika diseduh bersama, rasanya menjadi harmonis. Lalu, seberapa penting chemistry ini dalam hubungan jangka panjang?

Chemistry sering digambarkan sebagai percikan instan saat dua orang bertemu. Penelitian menyebutnya sebagai "koneksi yang dirasakan lebih dari sekadar interaksi biasa". Saat kita tertarik pada seseorang, otak membanjiri tubuh dengan dopamin—zat kimia pembuat bahagia—sehingga kita ingin terus bertemu. Ini seperti efek euphoria setelah menang pertandingan futsal atau menyelesaikan proyek besar.

Tapi chemistry tidak selalu muncul seketika. Terapis hubungan Alisha Powell, PhD, menjelaskan bahwa chemistry bisa tumbuh perlahan seiring waktu. Misalnya, awalnya kamu tidak tertarik dengan rekan kerja, tapi setelah sering diskusi bareng atau tertawa bersama, tiba-tiba perasaan itu muncul. "Kamu mulai memikirkan dia terus dan berusaha tampil menarik di depannya," ujar Powell.

Ketertarikan Fisik Bukan Segalanya, Tapi...

Seksolog Jenni Skyler, PhD, menyebut ketertarikan fisik sebagai "pintu gerbang" hubungan romantis. Tanpa ini, hubungan mungkin tidak akan melangkah ke tahap serius. Namun, chemistry fisik saja tidak cukup. Seperti motor keren yang mesinnya boros, hubungan bisa mentok jika tidak ada keselarasan emosi dan nilai hidup.

Contohnya, banyak pasangan yang awalnya click karena penampilan, tapi akhirnya putus karena beda pandangan soal finansial atau keluarga. "Chemistry awal pasti memudar. Yang bertahan adalah koneksi intelektual dan emosional," jelas Angela N. Holton, pakar hubungan. Seseorang yang sapiosexual (terangsang oleh kecerdasan) mungkin justru jatuh cinta karena obrolan mendalam, bukan fisik.

Dilema Chemistry di Dunia Digital

Aplikasi kencan mengubah cara kita merasakan chemistry. Hanya dalam 5 menit, kita memutuskan swipe left atau right berdasarkan foto dan bio singkat. Padahal, menurut Powell, "Kita bisa melewatkan jodoh hanya karena profilnya kurang menarik, padahal kalau ketemu langsung, chemistry-nya mungkin kuat."

Ini seperti memilih restoran lewat foto di GoFood. Makanan terlihat lezat di gambar, tapi saat sampai, rasanya biasa saja. "Kita sering kecewa saat ketemu langsung karena chemistry yang dibayangkan ternyata tidak ada," tambah Skyler. Solusinya? Beri kesempatan untuk virtual date atau obrolan lebih dalam sebelum memutuskan.

Tips Membangun Chemistry yang Tahan Lama

Jangan terpaku pada tipe fisik: Coba kenalan dengan orang yang tidak masuk "kriteria"-mu. Siapa tahu dia justru cocok secara emosional.

Cari kesamaan nilai: Diskusikan topik serius seperti rencana hidup atau prinsip hubungan di awal.

Jaga komunikasi: Chemistry perlu dipupuk. Rasa butterfly in the stomach bisa bertahan jika kalian terus saling memicu rasa penasaran.

Seperti lagu yang enak didengar karena harmonisasi nada, hubungan juga butuh keseimbangan antara fisik, pikiran, dan hati.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore