Ilustrasi orang meminta maaf (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Kita semua pasti pernah menemui orang yang jika mereka sedang berbicara, mereka tampak tidak benar-benar menyimak. Bukan karena tidak tertarik, tetapi karena sibuk merangkai kalimat yang akan mereka ucapkan setelahnya.
Dalam dunia psikologi, perilaku ini ternyata bukan sekadar soal kurangnya kesopanan atau ketidaksabaran. Ada pola tertentu yang kerap muncul pada orang-orang yang lebih fokus pada tanggapan mereka ketimbang pada apa yang sedang dibicarakan.
Meskipun sering dijumpai dalam dunia profesional yang menuntut kecepatan berpikir, kebiasaan ini sebenarnya bisa ditemukan di berbagai situasi sehari-hari.
Berikut tujuh ciri khas yang biasa dimiliki orang yang lebih suka menyiapkan kata-kata berikutnya daripada benar-benar mendengarkan, dikutip dari Geediting, Senin (21/4).
1. Terlalu Mementingkan Diri Sendiri
Salah satu ciri paling mencolok adalah kecenderungan untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang pribadi. Mereka mungkin tidak sadar bahwa mereka lebih peduli pada bagaimana mereka akan terlihat atau terdengar, daripada mencoba memahami lawan bicaranya.
Bukan berarti mereka benar-benar egois, tetapi mereka cenderung mengutamakan persepsi dan kepentingan sendiri. Karena itulah, empati pun jadi sulit muncul.
Seperti yang pernah dikatakan Carl Rogers, “Kebanyakan dari kita tidak bisa benar-benar mendengarkan karena kita merasa harus segera menilai. Mendengarkan butuh keberanian, dan tidak semua orang memilikinya.”
2. Tidak Sabar
Mereka yang terbiasa menyela dan memotong pembicaraan sering kali menunjukkan kurangnya kesabaran. Bukannya mendengarkan sampai tuntas, mereka memilih menanggapi lebih awal agar tidak kehilangan momen untuk menyuarakan pendapat.
Ketidaksabaran ini membuat informasi penting bisa terlewat, dan diskusi jadi tidak efektif. Padahal, seperti kata Einstein, kadang kita butuh diam sejenak agar kebenaran muncul.
3. Ingin Selalu Mengontrol
Kebiasaan memikirkan tanggapan saat orang lain sedang berbicara juga bisa mencerminkan dorongan untuk mengendalikan arah percakapan. Mereka merasa perlu memimpin diskusi, menjaga agar topik tetap di ranah yang mereka kuasai.
Ini bisa muncul dari rasa takut terlihat bodoh, keinginan untuk selalu tampak cerdas, atau sebagai cara untuk melindungi diri dari rasa rentan.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
