Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 April 2025 | 16.48 WIB

7 Cara Cerdas Membungkam Orang Sok Tahu Tanpa Bersikap Kasar, Menurut Psikologi

Ilustrasi. (Freepik) - Image

Ilustrasi. (Freepik)

JawaPos.com-Berurusan dengan orang sok tahu bisa sangat melelahkan. Mereka sering kali merasa punya jawaban untuk segalanya, menyela pembicaraan, dan membuat percakapan terasa seperti panggung monolog mereka sendiri.

Namun, menghadapi orang semacam ini bukan berarti kita harus membalas dengan nada tinggi atau emosi. Justru, dengan pendekatan psikologis yang tepat, kita bisa membuat mereka mundur perlahan, tanpa menyakiti, tanpa menyinggung, dan tetap menjaga suasana tetap nyaman.

Jadi, bagaimana cara elegan membungkam orang sok tahu? Dikutip dari Geediting.com, inilah 7 strategi psikologis cerdas yang bisa Anda gunakan untuk menghadapi mereka dan tetap tampil tenang, anggun, serta tegas.

1. Gunakan Kekuatan Diam: Saat Anda Tak Berkata Apa Pun, Itulah Saat Mereka Mulai Menyadari

Kadang, diam adalah senjata komunikasi yang paling kuat.

Orang yang sok tahu sering kali terlalu sibuk mendengar dirinya sendiri, sampai-sampai tak menyadari bahwa mereka memonopoli percakapan. Dalam kondisi ini, diam Anda bukan tanda kalah, tapi tanda kontrol.

Daripada berusaha menyela atau membantah, cukup beri jeda. Tunjukkan bahasa tubuh yang terbuka: mata tetap menatap, senyum kecil, namun mulut tetap tertutup. Biarkan mereka merasakan keheningan itu. Keheningan bisa menyentil ego lebih dalam daripada seribu kata.

Psikologi menyebut ini sebagai social cue—isyarat sosial yang secara halus menyampaikan bahwa sudah waktunya berhenti bicara dan memberi ruang bagi orang lain.

2. Ajukan Pertanyaan Terbuka: Biarkan Mereka “Tenggelam” dalam Jawaban Sendiri

Menghadapi orang yang terlalu percaya diri dengan pengetahuannya? Gunakan pertanyaan terbuka.

Alih-alih memotong atau membantah, lemparkan pertanyaan seperti:

“Apa yang membuatmu yakin dengan pandangan itu?”

“Apakah pengalaman pribadi yang membentuk pendapat itu?”

Pertanyaan terbuka seperti ini memaksa mereka berhenti sebentar untuk berpikir, bukan hanya berbicara. Dan saat mereka sibuk menyusun jawaban, Anda dan yang lain bisa merebut ruang bicara kembali.

Ini teknik psikologis yang disebut sebagai redirecting the narrative—mengalihkan narasi agar tak lagi sepenuhnya dikuasai oleh mereka.

3. Tegas Tapi Sopan: Nada Anda Menentukan Respek yang Anda Terima

Kadang, orang sok tahu butuh ditegur dengan halus. Bukan dengan marah, tapi dengan asertivitas ramah.

Gunakan kalimat seperti:

“Itu menarik, tapi saya punya pandangan berbeda yang ingin saya bagi juga.”

“Saya setuju sebagian, tapi izinkan saya tambahkan sudut pandang lain.”

Frasa-frasa ini membuat Anda tampil percaya diri tanpa menyerang. Anda mengakui kontribusi mereka, namun tetap membuka ruang untuk Anda sendiri.

Menurut psikolog Abraham Maslow, pertumbuhan pribadi sering kali dimulai dari keberanian untuk menyuarakan pikiran sendiri, bahkan dalam tekanan sosial.

4. Gunakan Humor Cerdas: Tertawakan Tanpa Menjatuhkan

Humor yang cerdas bisa menjadi senjata halus yang sangat efektif.

Bayangkan seseorang terus membanggakan dirinya soal topik tertentu. Anda bisa menyelipkan komentar seperti:

“Wah, kamu ini kayak versi hidupnya Wikipedia. Tapi aku penasaran juga nih, kalau kita tanya versi Google yang mana, hasilnya sama nggak ya?”

Lelucon ringan seperti ini bisa membuyarkan dominasi mereka tanpa membuat mereka malu.

Psikologi menyebut ini sebagai benign violation—pelanggaran yang terasa lucu, bukan ofensif.

5. Tetapkan Batasan: Ingatkan Bahwa Ini Percakapan, Bukan Ceramah

Orang yang sok tahu kadang hanya butuh diingatkan bahwa bukan hanya mereka yang punya suara.

Anda bisa dengan lembut mengatakan:

“Masukanmu bagus banget, tapi gimana kalau kita denger juga pendapat teman-teman yang lain?”

“Mungkin kita bisa kasih kesempatan ke yang lain untuk cerita juga?”

Ini bukan sekadar meminta waktu bicara, tapi menegakkan batas sosial yang sehat. Menurut Viktor Frankl, setiap respons yang kita pilih dalam interaksi menunjukkan nilai diri kita. Dan memilih bersikap bijak adalah bentuk kekuatan.

6. Latih Empati: Di Balik Sikap Sok Tahu, Bisa Jadi Ada Luka yang Tak Terlihat

Jangan buru-buru kesal. Banyak orang yang sok tahu sebenarnya sedang mencari validasi.

Mereka mungkin merasa tidak aman atau takut dianggap tidak cukup pintar. Menyadari ini bisa membantu Anda menanggapi dengan empati, bukan emosi.

Contohnya:

“Aku bisa lihat kamu tahu banyak soal ini, pasti butuh waktu dan pengalaman ya buat sampai pada kesimpulan itu.”

Dengan begitu, Anda mengakui usaha mereka tanpa menyerahkan kendali percakapan.

Psikolog Daniel Goleman menyebut empati sebagai bagian penting dari emotional intelligence—yang membedakan orang yang sekadar pintar dengan mereka yang benar-benar bijak.

7. Jadi Contoh: Tunjukkan Cara Berkomunikasi yang Sehat

Cara terbaik membungkam orang sok tahu?

Bukan dengan membungkam mereka. Tapi dengan menjadi contoh komunikasi yang inklusif.

Dengarkan saat orang bicara.

Tanggapi dengan perhatian.

Hormati pendapat berbeda.

Tindakan Anda akan menjadi cermin refleksi bagi mereka. Bahkan orang paling dominan sekalipun, secara bawah sadar, akan mulai meniru dinamika positif yang Anda ciptakan.

Seperti kata Albert Bandura, kita belajar bukan hanya dari pengalaman, tapi juga dari melihat bagaimana orang lain berinteraksi.

Setiap percakapan adalah ladang latihan. Bukan hanya soal siapa yang paling tahu, tapi siapa yang paling tahu cara bersikap.

Menghadapi orang sok tahu bukan tentang adu ego, tapi tentang menciptakan percakapan yang adil dan sehat untuk semua orang.

Ingat:

Diam bisa jadi lebih lantang daripada kata-kata.

Humor bisa lebih tajam dari sindiran.

Empati bisa lebih kuat dari debat.

Dan yang paling penting, keanggunan dalam berkomunikasi adalah tanda kedewasaan sejati.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore