Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 April 2025 | 03.25 WIB

Selalu Jadi Penjaga Emosional? Kenali 8 Beban Mental yang Sering Kamu Pikul Diam-Diam

Ilustrasi orang yang merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang yang merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain. (Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa seperti "penjaga emosional" tidak resmi dalam setiap kumpulan orang? Mungkin kamu adalah teman yang selalu ikut menanggung kesedihan orang lain, rekan kerja yang begadang memikirkan stres rekan satu tim, atau anggota keluarga yang selalu berusaha mendamaikan suasana setiap kali terjadi konflik.

Faktanya, orang-orang yang merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain biasanya memikul beban yang cukup berat. Dilansir dari laman DMNews pada Jumat (18/04), berikut 8 beban mental yang sering dirasakan oleh orang-orang seperti ini.

1. Rasa bersalah yang tak kunjung hilang

Pernahkah kamu terjaga di malam hari, memutar ulang percakapan dengan seseorang yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya, lalu mulai menyalahkan dirimu sendiri karena mengira kamu telah melakukan atau mengatakan sesuatu yang salah?

Perasaan bersalah seperti ini sangat melelahkan. Seolah-olah segala hal buruk yang terjadi dalam hidup orang lain adalah kesalahanmu. Sayangnya, orang-orang seperti itu jarang mempertimbangkan kemungkinan faktor luar. Kita langsung menyalahkan diri sendiri. Dan begitu siklus ini dimulai, sulit sekali untuk keluar darinya.

2. Kelelahan emosional

Ketika kamu terus-menerus waspada terhadap perubahan emosi orang lain, jangan heran kalau kamu merasa lelah luar biasa secara mental. Rasanya seperti harus selalu siap dengan kata-kata penghibur atau solusi terbaik, kapanpun dibutuhkan.

Dalam dunia psikologi, kondisi ini disebut hypervigilance, yaitu kewaspadaan berlebih terhadap suasana emosional di sekitar kita. Menurut penelitian dari American Psychological Association, stres kronis seperti ini bisa menyebabkan kelelahan mental, penurunan imunitas, bahkan gangguan kecemasan.

Sering kali, kita baru menyadari betapa lelahnya kita ketika tiba-tiba meledak marah atau menangis di dalam mobil. Satu waktu kita sibuk menenangkan sahabat karena salah paham kecil, lalu langsung disusul dengan menghadapi keluhan terus-menerus dari rekan kerja. Hasilnya? Kita kehabisan tenaga untuk menjaga diri sendiri.

3. Sulit membedakan empati dan keterlibatan berlebihan

Pernah berpikir, "Kalau aku nggak membantu menyelesaikan masalah ini, berarti aku nggak peduli?" Batas antara peduli dan terlalu larut kadang sangat tipis. Empati itu indah, tapi bukan berarti kita harus bertanggung jawab penuh atas emosi orang lain. Empati adalah tentang memahami dan menemani, bukan mengambil alih beban mereka.

Seperti kata John C. Maxwell, "Kamu tidak bisa memimpin orang lain kalau kamu terlalu bergantung pada mereka". Hal yang sama berlaku dalam kehidupan emosional kita. Kita tidak bisa membantu orang lain dengan efektif jika keseimbangan diri kita bergantung pada kondisi emosional mereka.

4. Identitas diri yang mulai kabur

Ketika kamu terus fokus pada perasaan orang lain, lama-lama kamu bisa kehilangan arah tentang siapa dirimu sebenarnya. Kebutuhan, keinginan, bahkan kepribadianmu bisa mulai terbentuk hanya untuk menjaga keharmonisan. Kalau kita terus mengorbankan diri demi kenyamanan orang lain, lama-lama kita kehilangan arah dan sulit merasakan kepuasan hidup yang sejati.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore