Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 April 2025 | 02.48 WIB

Menurut Psikologi: Ada 5 Alasan Seseorang yang Autentik Bisa Jadi Problematik Bagi Diri Sendiri dan Orang Sekitar

Ilustrasi orang yang autentik. - Image

Ilustrasi orang yang autentik.

JawaPos.com - Sering kali kita mendengar kata pepatah "jadilah diri sendiri" atau dengan kata lain harus tetap autentik, mungkin itu suatu petuah yang cukup baik jika ditempatkan sesuai porsinya.

Mengutip dari laman wikiHow pada Kamis (10/04) dengan menjadi seseorang yang autentik, kamu bisa menerima diri sendiri apa adanya dan menghormati orang lain. Pribadi autentik menerapkan prinsip hidupnya secara konsisten dan sikapnya tidak berubah-ubah setiap kali melakukan percakapan dengan orang yang berbeda.

Perilaku tersebut tentunya membuat kita tidak bermuka dua atau memakai topeng agar mendapat validasi positif dari orang lain, tapi di sisi lain juga kita perlu memerhatikan bahwa ke-autentikan diri ini sudah sesuai atau tidak dengan kondisi yang ada.

Dilansir dari laman Psychology Today pada Kamis (10/04) ada 5 alasan seseorang yang autentik bisa jadi problematik bagi diri sendiri dan orang sekitar :

1. Semua hal yang ada di diri sendiri itu tidak sama

Kepribadian manusia bukanlah satu diri yang bersatu tetapi sistem bagian-bagian, masing-masing dengan perspektif, perasaan, dan keinginannya sendiri. Bagian-bagian ini tidak patologis itulah yang membuat kita manusia.

Kemudian ketika kita mencoba memilih hanya satu diri "otentik" untuk mendefinisikan kita, yang pada akhirnya mengabaikan kompleksitas pikiran manusia.

2. Keaslian bergantung pada keadaan

Apa yang terasa otentik di satu momen mungkin terasa benar-benar salah di momen lain, itu karena sistem saraf memainkan peran utama dalam membentuk karakter. Ketika otak berada dalam mode bertahan hidup, bagian yang bertanggung jawab untuk bertarung, melarikan diri, atau membeku akan diaktifkan.

Pekerjaan sebenarnya bukanlah "menjadi autentik" tapi ini belajar mengatur sistem sehingga semua bagian dapat diselaraskan sebelum bertindak.

3. Tekanan untuk menjadi autentik dapat menyebabkan cambuk emosional

Kamu harus percaya diri, tetapi tidak terlalu percaya diri. Transparan, tetapi tidak berbagi secara berlebihan. Bersikaplah nyata, tetapi jangan berantakan, dan itu sangat melelahkan.

Kamu tidak harus memilih antara menjadi robot atau luka terbuka emosional. Kamu diizinkan untuk memiliki batasan dan bersikap tulus, serta menjadi versi diri yang paling sehat tidak selalu yang paling tidak difilter.

4. "Keaslian" seringkali bisa menjadi kedok untuk melewati tanggung jawab

Terkadang "keaslian" digunakan sebagai alasan untuk melepaskan emosi yang belum diproses atau menghindari melakukan kerja keras. Ada perbedaan antara mengungkapkan kebenaran dan mempersenjatainya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore