
Sifat anak yang tumbuh dari orang tua protektif menurut psikologi
JawaPos.com – Uang sering kali menjadi ujian terbesar dalam hubungan persahabatan. Dalam banyak kasus, persoalan keuangan dapat memicu konflik, salah paham, atau bahkan perpecahan yang tidak terduga.
Menurut psikologi, dinamika ini terjadi karena uang memiliki nilai emosional yang kuat, melibatkan rasa kepercayaan, kesetaraan, dan tanggung jawab.
Untuk menjaga persahabatan tetap sehat, penting memahami bagaimana harta bisa merusak hubungan dan bagaimana menghindari jebakan tersebut.
Dilansir dari geediting.com pada Selasa (1/4), diterangkan bahwa terdapat delapan sifat anak yang dibesarkan oleh orang tua yang sangat protektif pada mereka menurut Psikologi.
1. Ketimpangan finansial dalam persahabatan
Situasi finansial yang berbeda antara dua sahabat bisa menciptakan ketegangan yang tak terhindarkan. Saat seorang teman memiliki kestabilan finansial yang baik, mereka mungkin tanpa sadar memamerkan kekayaan mereka melalui cerita tentang liburan atau pembelian barang mewah terbaru.
Di sisi lain, teman yang kurang mampu bisa merasa minder, tertekan, atau bahkan menyimpan kekesalan mendalam akibat perbedaan ini. Kunci untuk mengatasi hal ini adalah dengan membangun empati dan sensitivitas dari kedua belah pihak, sambil tetap menjaga komunikasi terbuka tentang perbedaan kondisi keuangan tanpa membiarkannya mendominasi dinamika pertemanan.
2. Hutang uang
Aktivitas pinjam meminjam uang dalam pertemanan dapat menciptakan dinamika kekuasaan yang tidak nyaman dan berpotensi merusak hubungan. Ketika seseorang meminjam uang namun tidak kunjung membayar atau bahkan tidak menyinggung soal hutang sama sekali, hal ini bisa menimbulkan perasaan dimanfaatkan pada pemberi pinjaman.
Sementara itu, peminjam mungkin merasa tertekan dan bersalah karena belum bisa mengembalikan, menciptakan ketegangan yang sulit diabaikan. Situasi ini sering berakhir dengan rusaknya kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun.
3. Pengeluaran kompetitif
Manusia memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan diri dengan orang lain, termasuk dalam hal pengeluaran. Kebiasaan ini bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti membeli barang yang sama, namun dapat dengan cepat berubah menjadi kompetisi finansial yang tidak sehat.
Persaingan semacam ini tidak hanya membahayakan kondisi keuangan tapi juga bisa menimbulkan kecemburuan dalam persahabatan. Para psikolog menyarankan untuk menyadari kecenderungan ini dan menahan diri dari dorongan untuk mengimbangi atau melampaui pengeluaran teman.
4. Persaingan kekayaan
Persaingan dalam mencapai kesuksesan finansial bisa dengan cepat meracuni persahabatan yang sebelumnya sehat. Ketika satu teman membeli mobil baru, yang lain merasa perlu membeli yang lebih besar, atau ketika satu teman mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi, yang lain merasa tidak adequate dengan penghasilannya saat ini.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
