
Ilustrasi gadis kecil tidak mau mendengar pertengkaran orang tuanya (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Masa kanak-kanak adalah fondasi penting bagi perkembangan kepribadian seseorang. Pengalaman-pengalaman di masa kecil, baik positif maupun negatif, dapat membentuk karakter dan perilaku di kemudian hari. Salah satu pengalaman yang sangat berdampak adalah menyaksikan pertengkaran keluarga secara terus-menerus.
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik dan pertengkaran sering kali mengembangkan mekanisme pertahanan diri tertentu untuk menghadapi situasi tersebut. Mekanisme ini, meskipun membantu mereka bertahan di masa kecil, dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka.
Dikutip dari laman Geediting.com, Senin (24/3), berikut adalah delapan sifat umum yang seringkali ditampilkan oleh orang dewasa yang masa kecilnya diwarnai oleh pertengkaran rutin.
1. Sensitivitas Tinggi
Orang dewasa ini cenderung sangat peka terhadap konflik atau ketegangan. Mereka memiliki kemampuan untuk merasakan adanya potensi perselisihan bahkan dalam situasi yang tampak tenang. Kepekaan ini bisa menjadi respons bawah sadar terhadap pengalaman masa lalu mereka.
2. Kecenderungan Menghindari Konfrontasi
Masa kecil yang penuh pertengkaran dapat membuat seseorang tidak nyaman dengan konflik. Mereka mungkin berusaha keras untuk menghindari situasi yang berpotensi menimbulkan perselisihan. Keinginan untuk menciptakan lingkungan yang damai sangat kuat pada diri mereka.
3. Kesulitan dalam Percaya
Lingkungan yang tidak stabil dan penuh pertengkaran dapat mengikis rasa percaya seseorang terhadap orang lain. Mereka mungkin merasa sulit untuk membuka diri dan membangun hubungan yang mendalam. Pengalaman masa lalu mengajarkan mereka untuk selalu waspada.
4. Perfeksionisme
Beberapa orang yang tumbuh dalam keluarga yang sering bertengkar mengembangkan perfeksionisme. Mereka mungkin merasa perlu untuk selalu sempurna agar tidak memicu konflik atau kekecewaan. Standar yang mereka tetapkan untuk diri sendiri sangat tinggi.
5. Kurangnya Empati
Meskipun terdengar paradoks, beberapa orang yang sering menyaksikan pertengkaran justru menunjukkan kurangnya empati. Mereka mungkin menjadi mati rasa terhadap emosi orang lain karena terlalu sering terpapar pada konflik. Ini adalah satu di antara sifat yang sangat memengaruhi hubungan interpersonal.
6. Kecemasan dan Kewaspadaan Berlebihan
Hidup dalam lingkungan yang tidak terprediksi dapat memicu kecemasan kronis. Orang dewasa ini mungkin selalu merasa waspada dan tegang, seolah-olah menunggu konflik berikutnya terjadi. Rasa aman menjadi barang yang langka bagi mereka.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
