Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Maret 2025 | 22.42 WIB

3 Perilaku Halus Pria yang Berjuang untuk Konsisten dalam Hubungan, Menurut Psikologi

Ilustrasi hubungan bahagia dengan pria yang tepat. (Freepik)

JawaPos.com - Selama bertahun-tahun, konsistensi dalam hubungan terasa seperti teka-teki yang tidak bisa saya pecahkan. Anda tahu skenarionya: Menepati janji Muncul secara emosional Mengelola konflik secara matang Berkomunikasi secara efektif Dan mempertahankan koneksi yang stabil dan andal tanpa pasang surut.

Saya Lachlan Brown, pendiri Hack Spirit dan penggemar psikologi yang bersemangat. Namun, ada suatu masa ketika saya sangat tidak konsisten dalam hubungan. Usia 20-an saya adalah rollercoaster dengan perilaku yang tidak menentu. Suatu hari, saya akan menjadi segalanya, berkomitmen penuh.

Berikutnya? Terpisah, jauh, dan menyendiri. Ketidakkonsistenan ini tidak hanya membingungkan pasangan saya tetapi juga membuat saya merasa tersesat dan bingung. Baru setelah saya mempelajari psikologi, saya mengenali pola-pola ini sebagai perilaku halus pria yang berjuang dengan konsistensi dalam hubungan.

Dalam artikel ini, saya akan membagikan 3 perilaku halus ini kepada Anda. Mereka membantu saya memahami kecenderungan saya dan bekerja menuju hubungan yang lebih sehat, dan semoga mereka dapat melakukan hal yang sama untuk Anda. Dikutip dari hackspirit pada Senin (17/3), mari selami lebih dalam.

1) Beban emosional yang belum terselesaikan

Perilaku halus pertama yang saya kenali dalam diri saya adalah adanya beban emosional yang belum terselesaikan. Psikologi mengajari saya bahwa pengalaman masa lalu kita, terutama yang berkaitan dengan keterikatan dan hubungan, membentuk perilaku kita saat ini.

Bagi saya, itu adalah hubungan lama yang berakhir buruk dan membuat saya takut akan komitmen. Ketakutan ini terwujud dalam ketidakkonsistenan saya. Suatu hari saya akan terlibat penuh dalam suatu hubungan, hari berikutnya saya akan menjauh, didorong oleh rasa takut yang tidak disadari akan disakiti lagi.

Memahami ini adalah pengubah permainan. Itu memungkinkan saya untuk mengenali akar penyebab ketidakkonsistenan saya, dan itu mendorong saya untuk bekerja menyelesaikan pengalaman masa lalu ini.

Jika Anda mendapati diri Anda berayun di antara hubungan yang ekstrem, luangkan waktu untuk merenungkan masa lalu Anda. Apakah ada pengalaman yang belum terselesaikan yang mungkin memengaruhi perilaku Anda? Mengakui mereka adalah langkah pertama untuk mengatasi pengaruh mereka.

Ingatlah untuk bersikap baik pada diri sendiri selama proses ini. Membongkar beban emosional memang tidak mudah, tetapi ini merupakan langkah penting menuju hubungan yang lebih konsisten.

2) Kesulitan mengekspresikan emosi

Saya selalu merasa sulit untuk mengomunikasikan perasaan saya, terutama ketika perasaan itu negatif. Saya akan membotolkannya atau membiarkannya meledak, menyebabkan ketegangan dan kebingungan yang tidak perlu dalam hubungan saya.

Saya ingat satu contoh di mana saya merasa kewalahan dengan stres kerja, tetapi alih-alih berbagi ini dengan pasangan saya, saya menarik diri dan menjadi mudah tersinggung. Ketika dia mencoba memahami apa yang sedang terjadi, saya membentak, mengubah masalah kecil menjadi argumen besar.

Mengekspresikan emosi bukan hanya tentang berbicara; ini tentang hadir, mendengarkan, dan merespons dengan tepat. Ini tentang menciptakan ruang yang aman untuk komunikasi terbuka dalam hubungan Anda.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore