
Alasan Banyak Orang Masih Percaya Takhayul (Pexels)
JawaPos.com – Banyak orang yang hingga kini masih mempercayai takhayul. Walaupun seringkali kepercayaan tersebut tidak terdengar masuk akal, tetap ada saja orang yang meyakini kebenarannya.
Ternyata, ada alasan psikologi yang kuat mengenai alasan orang percaya pada takhayul. Tapi sebelum membahas lebih jauh, pahami dulu makna dari takhayul itu sendiri.
Laman Forbes menjelaskan, ini merupakan sebuah keyakinan terhadap hubungan sebab-akibat bersifat supranatural terkait keberuntungan maupun kesialan. Meskipun zaman sudah berkembang pesat, takhayul masih tetap populer bagi sebagian orang.
Lalu, apa sebenarnya alasan psikologi di balik hal tersebut?
Menurut sisi psikologi, takhayul diyakini dapat memberikan rasa nyaman dan menciptakan ilusi kendali. Ya, kehidupan memang seringkali dilanda ketidakpastian dan ada saja kejadian di luar kendali.
Hal ini lantas membuat manusia merasa seperti tidak berdaya. Di sinilah takhayul seolah menciptakan rasa tenang. Misalnya saja, mengetuk kayu konon dapat menangkal kesialan. Dengan mempercayai ini, hidup terasa lebih damai meskipun sebenarnya ini hanyalah ilusi.
Sebuah penelitian dalam Psychological Science menjelaskan, mereka yang percaya takhayul terkait keberuntungan bahkan bisa meningkatkan performa dalam berbagai tugas. Ini disebabkan oleh rasa percaya yang akhirnya membuat rasa percaya diri melesat.
Alasan selanjutnya mengapa orang masih percaya takhayul adalah pengaruh dari kebudayaan sekitarnya. Manusia akan menyesuaikan diri pada kepercayaan yang dianut oleh kelompok atau komunitasnya.
Mereka pun menganggap takhayul sebagai identitas yang terhubung dengan warisan leluhur. Selain itu takhayul juga diyakini memberikan keamanan dan rasa kebersamaan.
Ketika menghadapi tekanan, masalah, hingga stres, seseorang membutuhkan mekanisme koping. Sebagian orang merasa takhayul mampu memenuhi kebutuhan ini.
Contohnya saja, seorang pemain bisbol terbiasa mengetuk tongkatnya ke tanah tiga kali sebelum memukul bola. Sebenarnya, ‘ritual’ ini adalah respon untuk menenangkan diri dan memberikan rasa kendali dari tekanan kompetisi.
Perilaku takhayul tentang pemain bisbol ini juga diteliti oleh studi dalam Basin and Applied Social Psychology. Hasil menunjukan, pemain bisbol Amerika percaya bahwa ritual tertentu bisa berdampak pada performa.
Pada intinya, dari sudut pandang psikologi, kepercayaan pada takhayul adalah bagian dari mekanisme manusia dalam mencari rasa kendali, kenyamanan, dan kepastian.Baik karena pengaruh budaya maupun sebagai cara menghadapi tekanan, takhayul terus bertahan sebagai bagian dari pola pikir dan perilaku banyak orang.
***

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
