Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Maret 2025 | 04.19 WIB

Kenapa Banyak Orang Masih Percaya Takhayul? Ini 3 Alasan Menurut Psikologi

Alasan Banyak Orang Masih Percaya Takhayul (Pexels) - Image

Alasan Banyak Orang Masih Percaya Takhayul (Pexels)

JawaPos.com – Banyak orang yang hingga kini masih mempercayai takhayul. Walaupun seringkali kepercayaan tersebut tidak terdengar masuk akal, tetap ada saja orang yang meyakini kebenarannya.

Ternyata, ada alasan psikologi yang kuat mengenai alasan orang percaya pada takhayul. Tapi sebelum membahas lebih jauh, pahami dulu makna dari takhayul itu sendiri.

Laman Forbes menjelaskan, ini merupakan sebuah keyakinan terhadap hubungan sebab-akibat bersifat supranatural terkait keberuntungan maupun kesialan. Meskipun zaman sudah berkembang pesat, takhayul masih tetap populer bagi sebagian orang.

Lalu, apa sebenarnya alasan psikologi di balik hal tersebut?

  1. Menciptakan Ilusi  Kendali

Menurut sisi psikologi, takhayul diyakini dapat memberikan rasa nyaman dan menciptakan ilusi kendali. Ya, kehidupan memang seringkali dilanda ketidakpastian dan ada saja kejadian di luar kendali.

Hal ini lantas membuat manusia merasa seperti tidak berdaya. Di sinilah takhayul seolah menciptakan rasa tenang. Misalnya saja, mengetuk kayu konon dapat menangkal kesialan. Dengan mempercayai ini, hidup terasa lebih damai meskipun sebenarnya ini hanyalah ilusi.

Sebuah penelitian dalam Psychological Science menjelaskan, mereka yang percaya takhayul terkait keberuntungan bahkan bisa meningkatkan performa dalam berbagai tugas. Ini disebabkan oleh rasa percaya yang akhirnya membuat rasa percaya diri melesat.

  1. Pengaruh Budaya dan Sosial

Alasan selanjutnya mengapa orang masih percaya takhayul adalah pengaruh dari kebudayaan sekitarnya. Manusia akan menyesuaikan diri pada kepercayaan yang dianut oleh kelompok atau komunitasnya.

Mereka pun menganggap takhayul sebagai identitas yang terhubung dengan warisan leluhur. Selain itu takhayul juga diyakini memberikan keamanan dan rasa kebersamaan.

  1. Mekanisme Koping

Ketika menghadapi tekanan, masalah, hingga stres, seseorang membutuhkan mekanisme koping. Sebagian orang merasa takhayul mampu memenuhi kebutuhan ini.

Contohnya saja, seorang pemain bisbol terbiasa mengetuk tongkatnya ke tanah tiga kali sebelum memukul bola. Sebenarnya, ‘ritual’ ini adalah respon untuk menenangkan diri dan memberikan rasa kendali dari tekanan kompetisi.

Perilaku takhayul tentang pemain bisbol ini juga diteliti oleh studi dalam Basin and Applied Social Psychology. Hasil menunjukan, pemain bisbol Amerika percaya bahwa ritual tertentu bisa berdampak pada performa.

Pada intinya, dari sudut pandang psikologi, kepercayaan pada takhayul adalah bagian dari mekanisme manusia dalam mencari rasa kendali, kenyamanan, dan kepastian.Baik karena pengaruh budaya maupun sebagai cara menghadapi tekanan, takhayul terus bertahan sebagai bagian dari pola pikir dan perilaku banyak orang.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore