Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Maret 2025 | 19.36 WIB

7 Tanda Seseorang Punya Luka Batin yang Belum Terobati di Masa Kecil Menurut Psikologi, Apa Saja?

Tanda luka batin yang belum terobati di masa kecil menurut psikologi - Image

Tanda luka batin yang belum terobati di masa kecil menurut psikologi

JawaPos.com – Masa kecil adalah fondasi utama dalam membentuk kepribadian seseorang di masa depan.

Namun, tidak semua orang dapat melewati masa kecil yang bahagia, ceria tanpa ada luka batin yang berarti.

Luka batin yang dialami di masa kecil bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, serta menjalin hubungan dengan orang lain.

Menurut psikologi, ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa seseorang masih menyimpan luka batin yang belum terobati dari masa kecilnya.

Dilansir dari geediting.com pada Kamis (6/3), diterangkan bahwa terdapat tujuh tanda seseorang punya luka batin yang belum terobati di masa kecil menurut psikologi.

1. Ketakutan mendalam terhadap penolakan
Rasa cemas berlebihan saat ditolak bisa menjadi pertanda adanya luka psikologis yang belum teratasi.

Berbeda dengan keengganan normal terhadap penolakan, kecemasan ini muncul secara konsisten dalam berbagai situasi seperti persahabatan, hubungan romantis, atau lingkungan profesional.

Menurut Psychology Today, pengalaman tidak merasa divalidasi atau diterima pada waktu kecil dapat membentuk pola ketidakamanan yang berlanjut hingga dewasa.

Seseorang yang pernah merasa diabaikan mungkin selalu meragukan setiap interaksi, mencari tanda-tanda penolakan yang akan datang.

Kepekaan terhadap penerimaan sosial sering kali berkaitan dengan momen-momen dimana seseorang merasa terabaikan sewaktu kecil.

Menyadari pola ini dapat membantu membebaskan diri dari kebiasaan terlalu memikirkan setiap interaksi sosial.

2. Kesulitan mempertahankan batasan sehat
Kesulitan mengatakan “tidak” atau merasa bersalah setiap kali menetapkan batasan bisa menjadi petunjuk penting.

Ketika kebutuhan emosional anak tertutupi oleh kebutuhan orang lain, anak tersebut dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang secara otomatis memprioritaskan tuntutan eksternal.

Hal ini bisa muncul sebagai perilaku menyenangkan orang lain, menghindari konflik, atau ketakutan tidak terucapkan akan mengecewakan siapa pun.

Kemampuan menetapkan batasan sering dipelajari melalui rasa aman dan harga diri yang konsisten semasa kecil.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore