Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Maret 2025 | 19.42 WIB

Terabaikan dan Tak Didengar: Dampak Psikologis Perlakuan Diam pada Korban

Ilustrasi perempuan yang sedang kesal. (Freepik) - Image

Ilustrasi perempuan yang sedang kesal. (Freepik)

JawaPos.com–Perlakuan diam menjadi satu di antara respons umum saat konflik terjadi dalam hubungan. Perilaku pasif-agresif ini melibatkan penarikan diri secara emosional dari interaksi yang sehat.

Dalam dinamika hubungan, perlakuan diam sering kali muncul sebagai mekanisme koping yang tidak sehat dan merusak. Alih-alih menyelesaikan masalah secara terbuka, satu pihak memilih untuk bungkam dan mengabaikan pasangan.

Perlakuan diam bisa menjadi bentuk kekerasan emosional yang halus namun sangat merusak hubungan. Komunikasi yang terhenti secara tiba-tiba dapat menciptakan jarak dan ketegangan yang signifikan antara pasangan.

Penting untuk mengenali berbagai alasan mengapa seseorang mungkin menerapkan perlakuan diam dalam hubungan mereka. Motivasi di balik perilaku ini bisa beragam, mulai dari menghindari konfrontasi yang tidak nyaman hingga upaya manipulasi pasangan.

Satu di antara alasan utama seseorang melakukan perlakuan diam adalah ketidakmampuan mengelola emosi yang intens. Ketika merasa sangat kewalahan oleh emosi negatif, satu pihak mungkin menarik diri sebagai bentuk perlindungan diri.

Beberapa orang menggunakan perlakuan diam sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab dalam konflik yang terjadi. Dengan membungkam, mereka secara efektif menghindari pembahasan isu-isu sulit yang seharusnya diselesaikan bersama.

Dalam beberapa kasus yang lebih parah, perlakuan diam digunakan sebagai taktik untuk mengontrol pasangan. Pelaku mungkin merasa memiliki kekuasaan dengan menahan kasih sayang dan komunikasi dari pasangannya.

Bentuk perlakuan ini merupakan sebuah taktik manipulasi emosional yang tidak sehat dalam hubungan. Perilaku ini dapat membuat pasangan merasa tidak berdaya dan tertekan secara emosional.

Perlakuan diam dapat menimbulkan dampak psikologis yang mendalam bagi penerimanya dalam hubungan. Merasa diabaikan dan tidak didengar pasangan dapat merusak harga diri dan kepercayaan diri seseorang.

Isolasi emosional yang disebabkan perlakuan diam dapat memicu munculnya kecemasan dan depresi pada korban. Korban sering kali merasa sangat bingung dan bertanya-tanya apa yang salah dengan diri mereka sehingga diperlakukan seperti itu.

Dalam jangka panjang, perlakuan diam yang kronis dapat merusak fondasi hubungan yang sehat. Kepercayaan dan keintiman dalam hubungan akan terkikis secara perlahan namun pasti, menciptakan siklus negatif yang sulit dipecahkan.

Mengatasi perlakuan diam memerlukan kesadaran dan upaya bersama dari kedua belah pihak yang terlibat dalam hubungan. Langkah pertama yang sangat penting adalah mengenali pola perilaku perlakuan diam ini dalam hubungan.

Komunikasi terbuka menjadi kunci utama untuk menjembatani kesenjangan yang diciptakan oleh perlakuan diam. Pasangan perlu belajar untuk mengungkapkan perasaan dan kebutuhan mereka secara jujur dan terbuka satu sama lain.

Mencari bantuan profesional seperti terapi pasangan dapat sangat bermanfaat dalam mengatasi masalah perlakuan diam. Terapis dapat membantu mengidentifikasi akar masalah dan mengembangkan strategi komunikasi yang lebih sehat dan efektif.

Penting juga untuk menetapkan batasan yang jelas dan sehat dalam hubungan asmara. Menyepakati bersama bahwa perlakuan diam tidak dapat diterima sebagai cara menyelesaikan masalah adalah langkah awal yang krusial.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore