
Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menetapkan dan menahan tersangka baru berinisial LHL dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penyaluran kredit fiktif melalui KoinWorks. (ANTARA)
JawaPos.com - Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menetapkan dan menahan tersangka baru berinisial LHL, selaku Beneficial Owner PT RMS dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penyaluran kredit fiktif melalui financial technology (fintech) KoinWorks periode 2020–2024.
Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati DKI, Dapot Dariarma, menjelaskan bahwa LHL merupakan pengusaha asal Malang, Jawa Timur yang diduga kuat melakukan manipulasi dalam pengajuan kredit kepada salah satu bank di Jakarta, melalui platform KoinWorks.
"Peranan tersangka LHL adalah melakukan manipulasi pengajuan kredit melalui KoinWorks dengan menggunakan nominee (nama pengganti), yaitu pegawai PT RMS, baik yang sudah mengundurkan diri (resign) maupun yang masih aktif," katanya dalam keterangannya dikutip, Rabu (3/6).
Dana hasil pencairan kredit tersebut kemudian digunakan oleh tersangka secara tidak benar dan tidak sesuai dengan peruntukannya. Untuk kepentingan penyidikan, Kejati DKI telah melakukan penahanan terhadap LHL selama 20 hari ke depan terhitung sejak Selasa (2/6).
"Untuk sementara, tersangka dititipkan di Lapas Kelas I Malang, yang nantinya akan dibawa ke Jakarta untuk menjalani penahanan di Rutan Cipinang, Jakarta Timur," ucap Dapot.
Penetapan LHL sebagai tersangka, kata dia, merupakan pengembangan dari penyidikan yang sebelumnya telah menjerat tiga orang petinggi dari pengurus PT LAT selaku pemilik fintech KoinWorks.
Ketiganya adalah BAA (Direktur Operasional PT LAT), BH (Direktur Utama PT LAT periode 2022–2024), dan JB (Direktur Utama PT LAT periode 2024–sekarang).
Dalam komplotan tersebut, pengurus PT LAT diduga menyalurkan pembiayaan secara melawan hukum berdasarkan analisis kelayakan yang tidak valid.
"Mereka memanipulasi agunan berupa invoice dan sengaja tidak melakukan penutupan asuransi, sehingga menyebabkan kredit cair hingga sekitar Rp600 miliar," ucap Dapot.
Hingga saat ini, penyidik Kejati DKI Jakarta telah berhasil menyita sejumlah aset, termasuk uang tunai senilai lebih dari Rp 14 miliar. Kejaksaan juga terus mendalami keterlibatan pihak internal salah satu bank di Jakarta tersebut serta nasabah-nasabah lain yang ikut melakukan manipulasi pengajuan kredit.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022