
Ilustrasi begal.(Dok.JawaPos.com).
JawaPos.com - Begal bukan sekedar kriminal jalanan biasa. Masalah tersebut butuh solusi yang bisa memastikan masalah tuntas sampai ke akar. Menurut pemerhati isu-isu kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto, begal muncul di atas problem ekonomi urban, lemahnya kontrol sosial, pasar penadahan, pola patroli, dan efek jera yang tidak konsisten.
”Karena itu, pembentukan Tim Pemburu Begal oleh Polda Metro Jaya mungkin penting sebagai respons cepat dan simbol kehadiran negara, tetapi itu lebih bersifat tactical response, bukan solusi struktural,” kata dia saat diwawancarai pada Selasa (19/5).
Berkaca dari tindakan serupa di berbagai daerah, Bambang menyatakan bahwa setelah operasi besar yang dilakukan Tim Pemburu Begal berlangsung, angka kasus begal memang turun. Namun itu hanya sementara waktu. Sebab, ekosistem dan jejaring yang berkelindan dengan kejahatan begal tidak dibongkar sampai ke akarnya.
Menurut Bambang, jika Polda Metro Jaya benar-benar ingin begal ditekan secara signifikan, pendekatan yang dilakukan harus bergeser dari sekadar mengejar pelaku menjadi disruption terhadap seluruh rantai kejahatan. Dia pun menyebut beberapa aspek penting.
Termasuk diantaranya intelligence-led policing, bukan sekadar patroli reaktif. Dalam konteks tersebut, polisi harus memetakan hotspot, jam rawan, pola mobilitas pelaku, hubungan dengan geng motor, residivis, hingga jaringan penadah kendaraan dan sparepart.
”Banyak kasus begal bertahan karena pasar penadah tetap hidup,” ucap Bambang.
Selain itu, kegiatan patroli berbasis harus berbasis data dan dominan di wilayah, Khususnya pada titik transisi urban seperti jalan arteri yang sepi, underpass, kawasan industri malam hari, akses tol, dan wilayah perbatasan Jakarta–Bekasi–Depok–Tangerang.
”Selama ini patroli sering terlalu administratif dan tidak berbasis crime mapping real time,” ujarnya.
Pengawasan penadahan dan bengkel ilegal, kata Bambang, adalah kunci yang sering diabaikan. Menurut dia, begal tidak akan berkembang tanpa ekonomi ilegal yang menyerap motor hasil curian. Untuk itu, operasi harus menyasar penadah, bukan hanya pelaku lapangan.

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di 16 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Lionel Messi atau Mohamed Salah
