
Sidang perkara penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus di Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada Kamis (7/5). Saksi ahli memberikan keterangan di depan majelis hakim. (Sahrul Yunizar/JawaPos.com)
JawaPos.com - Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menyoroti berbagai kejanggalan dalam sidang perkara penyiraman air keras Andrie Yunus di Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada Rabu (6/5) dan Kamis (7/5). Menurut TAUD, persidangan terhadap 4 orang terdakwa dalam perkara tersebut tidak ubahnya sandiwara belaka.
Dalam keterangan resmi yang disampaikan kepada awak media hari ini, TAUD menyebutkan bahwa persidangan kemarin menunjukkan pembuktian pernyataan mereka. Yakni pengadilan militer merupakan proses pengadilan yang penuh dengan sandiwara dan drama yang tidak akan dapat menghadirkan kebenaran dan keadilan.
”Dalam proses sidang tersebut, majelis hakim memeriksa 4 orang saksi termasuk komandan Detasemen Markas (Denma) BAIS TNI dan ditemukan fakta bahwa sampai dengan persidangan berlangsung belum ada sanksi pemecatan terhadap 4 orang pelaku,” kata M. Isnur sebagai salah seorang perwakilan TAUD.
Isnur menyatakan bahwa dalam persidangan tersebut, majelis hakim bahkan mengeluarkan pernyataan yang jauh dari kata imparsial dan keberpihakan pada korban. Penyampaian pernyataan terkait dengan pemilihan wadah air keras, proses tindakan yang gegabah dan dianggap lucu-lucuan menunjukkan konflik kepentingan.
”Karena proses hukum dilakukan secara internal,” tambah pria yang juga ketua umum (ketum) YLBHI tersebut.
Sorotan lain yang juga menjadi atensi TAUD adalah upaya pemanggilan Andrie Yunus sebagai saksi korban untuk memberikan keterangan. Dalam proses formil, kata, Isnur, Andrie Yunus tidak pernah diperiksa oleh pihak oditurat militer. Baik dalam proses selidik maupun sidik.
Saat berkas perkara dilimpahkan, oditur militer juga sudah menyampaikan bahwa tidak diperlukan keterangan Andrie Yunus sebagai saksi korban. Menurut Isnur, itu menunjukkan kontradiksi atau a contrario dengan proses sidang yang saat ini tengah berlangsung.
”Pengadilan militer harusnya tegas menolak berkas perkara di awal saat pelimpahan tersebut karena dianggap cacat dan tidak layak, bukan malah melakukan upaya gagah-gagahan dengan mengancam pemidanaan kepada Andrie Yunus karena dinilai tidak kooperatif,” ujarnya.
Lebih lanjut, TAUD mempertanyakan ketidakhadiran mantan kepala BAIS TNI Letjen TNI Yudi Abrimantyo. Padahal, yang bersangkutan dinilai bertanggung jawab dalam perkara tersebut. Salah satu buktinya adalah penyerahan jabatan sebagai bagian dari tindakan tanggung jawab terhadap kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Malaga vs Levante: Laga Sengit yang Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Heerenveen vs AZ Alkmaar di Liga Belanda: Kans De Kaasboeren Pesta Gol!
Dr. Iwan Aflanie, Pakar Forensik Indonesia untuk ULM yang Lebih Maju
