Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel. (Fathnur Rohman/Antara)
JawaPos.com–Pakar Psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyebut logika dasar polantas ketika ada balap liar, peserta akan serta-merta ketakutan lalu lari saat melihat polisi.
”Apa isi kepala personel Polri yang bertugas di bidang lalu lintas saat menangani balapan liar? Mereka pasti bubar begitu melihat ada polisi. Begitu jawaban polantas yang saya tanyai,” ujar Reza.
Lalu kenapa Brimob yang menangani balap liar di Tual hingga menyebabkan ada korban tewas? Jika anggap hal itu kebetulan karena di lokasi Brimob berada ternyata ada balapan liar, Brimob bisa turun tangan. Hal itu bisa dipahami. Toh setiap insan Tribrata diharapkan siap seketika merespon situasi yang membutuhkan kehadiran polisi.
”Namun selama pembubaran aksi balap liar itu berlangsung, hingga kemudian ketika AT dan NK lewat, Brimob sesungguhnya punya cukup waktu untuk berkoordinasi dengan Unit Lantas atau pun satuan wilayah Polri terdekat (Polsek). Seharusnya demikian,” tandas Reza.
”Jika tidak, maka kerja Brimob pada saat itu menjadi problematik. Ini masalah pertama,” imbuh dia.
Kedua, menurut Reza Indragiri Amriel, ketika Bripda MS mengayunkan helm hingga mengenai pelipis AT, masalah menjadi kian serius. Sebab, helm bukan instrumen untuk mengendalikan manusia, dalam hal ini pengendara yang diasumsikan sebagai pembalap liar.
”Jadi, apa pun alasannya, penggunaan helm sebagai alat pengendali jelas merupakan kesalahan,” terang Reza.
Ketiga, lanjut Reza, Bripda MS mengarahkan helm ke titik yang bisa diperkirakan akan mengenai kepala pengendara. Padahal kepala merupakan bagian vital yang benturan kencang terhadapnya bisa berakibat fatal.
”Jadi, aksi Bripda MS itu bisa diklasifikasi sebagai penggunaan daya paksa yang dapat berakibat kematian (use of deadly force). Pertanyaannya, apa tahap demi tahap eskalasi situasi yang Bripda MS lihat sehingga dia pada akhirnya menerapkan cara mematikan?” tutur Reza.
”Jika dia melihat ada eskalasi, harus diperiksa apa saja bentuk respons (penindakan) yang Bripda MS lakukan setahap demi setahap hingga puncaknya dia menggunakan cara mematikan,” tegas Reza.
”Atau, jangan-jangan Bripda MS seketika langsung menerapkan cara mematikan itu sebagai taktik tunggal terhadap AT dan NK,” imbuh dia.
Menurut Reza, cara mematikan boleh langsung dilakukan hanya jika Bripda MS menilai bahwa perbuatan AT dan NK dapat mengakibatkan dia maupun orang-orang di sekitarnya cedera parah atau mati.
Dia menyatakan, tujuan Bripda MS mengayunkan helm jika bermaksud menghentikan motor AT dan NK, sementara keduanya tidak melambatkan apalagi menghentikan kendaraan mereka, polantas lazimnya akan membiarkan motor berlalu sambil jika perlu mencatat nomor kendaraan dan berkoordnasi dengan petugas lain untuk melakukan pencegatan.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
