Peneliti senior LeIP, Arsil, salah satu dari 12 tokoh pengajuan Amicus Curiae sidang praperadilan Nadiem Makarim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (Ridwan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Sebanyak 12 tokoh antikorupsi dari berbagai latar belakang telah mengajukan pendapat hukum dalam bentuk Amicus Curiae atau sahabat pengadilan dalam sidang praperadilan mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim.
Naskah amicus curiae itu dibacakan langsung oleh peneliti senior Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP) Arsil bersama pegiat antikorupsi Natalia Soebagjo dalam sidang praperadilan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), pada Jumat (3/10).
Mereka menilai bahwa mekanisme praperadilan saat ini sering kali menyimpang dari tujuan awal dan gagal berfungsi sebagai pengawas efektif terhadap penggunaan diskresi penyidik. Amicus curiae sendiri berakar dari tradisi hukum Romawi dan berkembang luas dalam sistem common law di negara-negara seperti Inggris dan Amerika Serikat, terutama pada abad ke-19.
Hal itu membantu pengadilan dengan memberikan informasi, analisis hukum, atau sudut pandang tambahan yang dapat memperkaya pertimbangan hakim dalam memutus perkara. Menurut Arsil, salah satu persoalan krusial adalah praktik penetapan tersangka dan tindakan penangkapan atau penahanan yang dilakukan tanpa alasan yang cukup jelas.
“Di sini kami melihat memang penegakan hukum itu penting. Kita pastinya menginginkan agar tindak pidana diberantas, pelaku kejahatan harus ditindak. Tetapi kami juga menginginkan penegakan hukum yang tetap akuntabel hanya terhadap orang-orang yang memang terdapat cukup bukti sajalah yang dapat dijadikan tersangka,” kata Arsil kepada wartawan, Rabu (8/10).
Ia menekankan, praperadilan seharusnya menjadi forum untuk menguji tindakan-tindakan penyidik yang berpotensi merugikan hak seseorang. Namun, dalam praktiknya pengadilan dinilai belum efektif melindungi hak-hak tersangka dan belum berfungsi sebagai pengawas terhadap kewenangan penyidik.
Bahkan, beban pembuktian dalam praperadilan sering kali justru dibebankan kepada pihak pemohon, bukan kepada penyidik yang melakukan tindakan hukum.
Para pengaju Amicus Curiae menegaskan tidak bermaksud memengaruhi putusan hakim dalam kasus Nadiem, mereka berharap masukan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan yang serius. Sebab, selama ini hakim praperadilan jarang sekali menguji secara mendalam alasan subjektif penyidik ketika menetapkan seseorang sebagai tersangka.
“Praperadilan merupakan forum yang paling tepat untuk menilai apakah penetapan tersangka itu benar-benar objektif atau tidak. Apakah bukti yang ada memang cukup untuk menduga seseorang patut sebagai pelaku. Dengan kata lain, apakah penilaian itu benar-benar reasonable,” urai Arsil.
Dalam permohonan praperadilan, tim kuasa hukum Nadiem Makarim menuding penetapan tersangka terhadap kliennya dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop chromebook di lingkungan Kemendikbudristek tahun anggaran 2019-2022, tidak sesuai prosedur.
"Penetapan Tersangka terhadap Pemohon sebagaimana tertuang dalam Surat Penetapan Tersangka Nomor TAP-63/F.2/Fd.2/09/2025 tertanggal 4 September 2025 a.n. Nadiem Anwar Makarim tidak sah dan tidak mengikat secara hukum," ujar tim kuasa hukum Nadiem yang dipimpin Hotman Paris di PN Jaksel, Jumat (3/10).
Kuasa hukum Nadiem menyebut, penetapan tersangka tidak didasari pada hasil audit perhitungan kerugian keuangan negara yang bersifat nyata oleh BPKP.
"Padahal, Hasil Audit Perhitungan Kerugian Keuangan Negara yang bersifat nyata (actual loss) tersebut merupakan syarat mutlak sebagai salah satu dari dua alat bukti yang dipersyaratkan dalam Pasal 184 KUHAP jo. Putusan MKRI 21/PUU-XII/2014 sehingga Penetapan Tersangka terhadap Pemohon harus dinyatakan tidak sah dan tidak mengikat secara hukum," tegasnya.
Tim hukum Nadiem juga mempersolkan sikap Kejaksaan Agung yang tidak menerbitkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) atas penetapan tersangka tersebut. Namun, Nadiem justru telah dilakukan upaya paksa penahanan.

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
