
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengenakan rompi oranye usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (20/2/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Penahanan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan ramainya tagar kabur aja dulu di media sosial menjadi perbincangan para netizen. Beragam persepsi dari netizen atas dua isu besar tersebut.
Potret persepsi publik terhadap dua isu disurvei oleh lembaga survei Media Survei Nasional (Median). Hasilnya untuk Hasto Kristiyanto, netizen menilai itu murni langkah hukum dari KPK.
Peneliti Senior Median Ade Irfan Abdurahman menyatakan, dari pertanyaan yang dilontarkan kepada responden, apakah penahanan yang terhadap Hasto Kristiyanto adalah murni langkah penegakan hukum atau karena tekanan politik.
"Hasilnya, 55,8 persen netizen melihat bahwa penahanan yang dilakukan KPK adalah murni langkah hukum; 26,6 persen menganggap proses ini adalah tekanan politik," ujar Ade Irfan Abdurahman dalam rilis terbaru hasil survei Median melalui Zoom pada Selasa (25/2).
Untuk diketahui, Lembaga Survei Median mengadakan survei berbasis media sosial untuk menggali persepsi publik terkait dinamika politik yang berkembang dalam dua pekan terakhir. Survei itu menggunakan rancangan Non-Probability Sampling dengan kuesioner yang disebarkan melalui Google Form kepada pengguna aktif media sosial di rentang usia 17 hingga 60 tahun ke atas.
Pengumpulan data dilakukan dalam kurun waktu 21–22 Februari 2025. Jumlah responden yang dihimpun sebanyak 518 orang. Semua itu tersebar di 30 provinsi.
Selain soal penahanan Hasto, survei itu melihat respons netizen #KaburAjaDulu. Ternyata tagar itu mendapat respons positif. Mayoritas publik atau sebanyak 85,7% responden menyatakan tahu adanya gerakan dan tagar #KaburAjaDulu.
Respons masyarakat terhadap tagar #KaburAjaDulu yakni sebanyak 53,7 persen publik menyatakan setuju dengan tagar #KaburAjaDulu. Sementara itu 34,9 persen responden menyatakan tidak setuju.
Setujunya publik terhadap tagar kabur aja dulu karena beberapa alasan. Terdapat lima alasan tertinggi yang membuat responden setuju dengan tagar itu. Yakninya, lapangan kerja sulit (18,3 persen); pemerintah kurang peduli rakyat (16,9 persen); mencari kehidupan lebih baik (10,8 persen); kecewa dengan kebijakan pemerintah (9,4 persen); lebih terjamin menjanjikan (7,2 persen).
"Responden umumnya mencari kehidupan lebih baik di luar negeri, sulitnya mencari kerja di negara sendiri," ungkapnya.
Sebaliknya, mereka yang tidak setuju dengan tagar Kabur Aja Dulu umumnya beranggapan bahwa tidak ada yang menjamin hidup di luar negeri lebih baik (18,2 persen) dan bahwa kabur bukanlah solusi (10,5 persen).
Ada pula yang menilai bahwa masalah di dalam negeri sebaiknya dihadapi, bukan dihindari (6,1 persen), serta 4,6 persen yang menekankan bahwa Indonesia memiliki banyak potensi untuk berkembang.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
