Logo JawaPos
Author avatar - Image
30 Maret 2026, 05.32 WIB

Fenomena 'Kabur Aja Dulu', Kampus Soroti Pentingnya Brain Circulation Talenta Indonesia

Ilustrasi fenomena sosial 'Kabur Aja Dulu'. (Istimewa). - Image

Ilustrasi fenomena sosial 'Kabur Aja Dulu'. (Istimewa).

JawaPos.com - Meningkatnya minat generasi muda Indonesia untuk mencari peluang kerja di luar negeri kembali menjadi sorotan. Fenomena yang populer dengan istilah 'Kabur Aja Dulu' ini dinilai bukan sekadar tren, melainkan sinyal adanya tantangan dalam ekosistem pendidikan dan pengembangan talenta di dalam negeri.

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi publik yang menghadirkan Prof. Gi-Wook Shin dari Stanford University. Dalam forum itu, dibahas konsep brain circulation, yaitu perputaran talenta lintas negara yang tetap memungkinkan kontribusi bagi negara asal.

Menurut Shin, mobilitas global tidak selalu berdampak negatif jika dikelola dengan strategi yang tepat. Sejumlah negara di Asia, termasuk Korea Selatan, mulai membangun kebijakan yang mendorong talenta untuk kembali atau tetap terhubung dengan ekosistem nasional meski berkarier di luar negeri.

“Pertukaran gagasan lintas negara menjadi penting untuk memastikan generasi muda tetap memiliki akses terhadap peluang global tanpa kehilangan keterkaitan dengan negaranya,” ujarnya melalui keterangannya.

Diskusi ini juga menyoroti kondisi di Indonesia, di mana meningkatnya keinginan bekerja di luar negeri kerap dikaitkan dengan keterbatasan peluang, kualitas riset, hingga ekosistem inovasi dalam negeri.

Wakil Rektor bidang riset di Binus University, Juneman Abraham, menilai fenomena tersebut perlu dibaca sebagai refleksi, bukan sekadar gejala sementara.

Ia menyebut, pendekatan brain circulation dapat menjadi solusi untuk menjaga daya saing sumber daya manusia Indonesia di tengah kompetisi global. 

Artinya, perpindahan talenta tidak harus dimaknai sebagai kehilangan, melainkan peluang untuk memperluas jejaring, pengalaman, dan transfer pengetahuan.

“Yang perlu didorong bukan hanya mobilitas, tetapi bagaimana talenta tetap berkontribusi bagi ekosistem nasional,” katanya.

Sejumlah forum akademik internasional yang digelar sepanjang 2026 disebut menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan akademisi, industri, dan pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi pengembangan talenta. 

Forum semacam ini juga dinilai penting untuk memperkuat relevansi riset dengan kebutuhan global sekaligus menjawab tantangan domestik.

Ke depan, isu pengelolaan talenta diperkirakan akan semakin krusial, seiring meningkatnya persaingan antarnegara dalam menarik sumber daya manusia unggul. Tanpa strategi yang tepat, Indonesia berisiko kehilangan potensi besar dari generasi mudanya.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Artikel Terkait
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore