
Anggota Komisi III DPR RI, Sarifuddin Sudding. (Istimewa)
JawaPos.com – Kematian Brigadir Muhammad Nurhadi, anggota Propam Polda NTB, yang tewas secara tragis di sebuah vila di Gili Trawangan, Lombok Utara, pada April 2025 lalu, tuai perhatian publik. Nurhadi diduga tewas usai ikut berpesta bersama dua atasannya, Kompol YG dan Ipda HC, serta dua perempuan di sebuah vila privat.
Anggota Komisi III DPR RI, Sarifuddin Sudding, menegaskan kasus tesebut menjadi ujian nyata terhadap komitmen reformasi Polri dalam menciptakan penegakan hukum yang setara dan bebas dari praktik impunitas.
“Tragedi kematian Brigadir Muhammad Nurhadi tidak hanya meninggalkan luka di tubuh Polri, tetapi juga menimbulkan kekecewaan publik yang mendalam terhadap wajah penegakan hukum di negeri ini," kata Sudding kepada wartawan, Rabu (9/7).
Pasalnya, berdasarkan hasil autopsi disebutkan terdapat luka-luka serius di tubuhnya, termasuk memar, lecet, luka robek, hingga tulang lidah yang patah. Brigadir Nurhadi diduga dianiaya dan tenggelam dalam kondisi tidak sadar.
Karena itu, Sudding mengkritik keras gaya hidup aparat yang tidak mencerminkan nilai moral dan etika seorang penegak hukum. Legislator Fraksi PAN itu mendukung pemecatan Kompol YG dan Ipda HC yang kini ditetapkan sebagai tersangka, serta proses pidana harus tetap dilanjutkan secara tuntas.
“Bagaimana polisi bisa dipercaya publik kalau perilakunya sendiri menyimpang dari nilai-nilai hukum dan kemanusiaan?” cetusnya.
Ia juga mengingatkan soal narasi awal kematian Nurhadi yang disebut hanya sebagai insiden tenggelam. Ia menyebut adanya perubahan versi setelah penyelidikan lebih lanjut mengindikasikan potensi penanganan yang tidak transparan sejak awal.
"Fakta bahwa narasi tersebut baru berubah setelah adanya penyelidikan lanjutan memperkuat dugaan bahwa ada potensi penanganan awal yang tidak transparan,” tegasnya.
Untuk menjamin keadilan dan transparansi, Sudding mendorong pembentukan tim pemantau independen yang melibatkan Komnas HAM, Kompolnas, serta pengawas internal Polri. Ia menilai tragedi ini mencerminkan persoalan mendalam dalam kultur kelembagaan Polri, khususnya terkait manajemen sumber daya manusia.
"Reformasi Polri tidak cukup hanya struktural. Harus sampai pada pembenahan SDM secara serius. Ini soal bagaimana negara memperlakukan keadilan, apakah universal atau hanya berlaku pada hierarki tertentu,” pungkasnya.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
