Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Maret 2025 | 23.53 WIB

Tak Muncul di Publik Usai Rumahnya Digeledah KPK, Ridwan Kamil Buka Suara:  Alhamdulillah Sehat dan Baik-baik Saja

Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK) belakangan ini jarang muncul dihadapan publik setelah rumahnya digeledah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pria yang karib disapa Kang Emil itu akhirnya mengunggah kegiatannya pada media sosial Instagram.
 
Sebelum rumahnya digeledah KPK, Ridwan Kamil memang aktif di media sosial. Terlebih dirinya sempat mencalonkan sebagai Gubernur Jakarta 2024. Namun, dirinya kalah dalam pertarungan Pilkada Jakarta itu.
 
Ridwan Kamil membagikan unggahan momen menemani sang anak ikut perlombaan push bike. Ia memastikan kondisinya sehat dan baik-baik saja.
 
"Kemarin Minggu mengantar anak untuk ikut perlombaan push bike untuk para balita. Semoga apapun hasilnya, meningkatkan rasa percaya diri anak-anak tersebut," kata Ridwan Kamil dalam unggahan pada media sosial Instagram, Rabu (19/3).
 
"Terkait situasi saya hari-hari ini. Saya alhamdulillah sehat dan baik-baik saja. Semingguan memang hanya di rumah saja," ucap RK.
 
RK menyatakan, sebagai warga negara jika terdapat masalah hanya bisa kooperatif. Serta membantu aparat penegak hukum, dalam hal ini KPK untuk membantu semua informasi yang tengah digali dalam kasus dugaan korupsi pengadaan dana iklan pada bank BUMS milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar.
 
 
Ia pun memastikan menjauhkan pikiran buruk sangka. Serta tidak akan menyimpulkan sesuatu yang sampai saat ini belum pasti.
 
"Karena nanti jatuhnya jadi asumsi dan malah menjadi fitnah, apalagi ini bulan suci Ramadhan. Terima kasih sebelumnya," urai RK.
 
Direktur Penyidikan KPK, Asep Guntur sebelumnya mengakui, pihaknya mengamankan berbagai barang bukti berupa dokumen hingga alat elektronik saat menggeledah rumah mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK). Penggeledahan terhadap rumah milik RK yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat, pada Senin (10/3).
 
Upaya paksa penggeledahan itu terkait kasus dugaan korupsi dana iklan pada bank BUMD Pemerintan Provinsi (Pemprov) Jabar. KPK akan memanggil RK untuk mengonfirmasi dan mendalami barang bukti yang diamankan dari keadiamannya itu.
 
"Penyidik telah melakukan penggeledahan beberapa waktu lalu, dan tentunya dari penggeledahan itu kami menyita beberapa dokumen, dan juga barang bukti elektronik, dan untuk kepentingan itu, kami harus melakukan konfirmasi yang bersangkutan terkait dokumen-dokumen yang ada," ujar Asep Guntur di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Minggu (16/3).
 
Asep memastikan, penyidik KPK bakal mrmanggil RK untuk diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi dana iklan pada PT. BPD Jawa Barat dan Banten. Keterangan Ridwan Kamil dianggap penting untuk menambah terang perkara dugaan korupsi tersebut.
 
"Kita membutuhkan informasi yang sebanyak-banyaknya, sehingga perkara ini benar-benar bisa mendapat jalan ceritanya yang bulat. Sehingga kontruksi perkara yang ditangani, itu benar-benar terbangung dengan baik," ujar Asep.
 
Meski demikian, Asep belum bisa memastikan secara rinci terkait waktu pemanggilan terhadap Ridwan Kamil. Ia memastikan, akan disampaikan jika penyidik sudah mengagendakan pemeriksaan.
 
"Nanti dikabari. Kita juga harus mendalami dokumen-dokumen yang kita kemarin hasil sita, kemudian barbuk elektronik itu harus kita pelajari dulu, sehingga kita tahu informasi apa yang akan ditanyakan, atau akan digali pada pak RK. Jadi tidak bisa sekarang, digeledah lalu dipanggil," tegasnya.
 
Dalam kasus ini, KPK menetapkan mantan Direktur Utama PT BPD Jawa Barat dan Banten alias Bank BJB, Yuddy Renaldi bersama empat orang lainnya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana iklan. Selain Yuddy Renaldi, KPK juga menetapkan Pimpinan Divisi Corsec BJB, Widi Hartoto. Serta tiga orang pihak agensi di antaranya ID, SUH dan SJK.
 
Kasus dugaan korupsi dana iklan untuk penayangan di media TV, cetak, dan online itu diduga merugikan keuangan negara sebesar Rp 222 miliar.
 
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore