Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Desember 2018 | 05.48 WIB

6 Tahun Bergelut Melawan Hidrosefalus, Faris Butuh Uluran Tangan

Faris bersama kedua orangtuanya Annisa dan Siswanto. - Image

Faris bersama kedua orangtuanya Annisa dan Siswanto.

JawaPos.com - Ahmad Faris,bocah laki-laki yang berusia 6 tahun hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya. Anak dari pasangan Anisa, 47, dan Siswanto,52, warga Jalan Suripno, Desa Purwodadi, Dusun 11, Ladang Baru, Gang Pinang, Kecamatan Sunggal, Deliserdang ini tidak bisa bermain dan bercengkrama dengan teman seusianya karena mengidap hidrosefalus. Ia hanya bisa mendengar orang yang berbicara dengannya.


Bocah malang itu lahir pada 11 Maret 2013 lalu, melalui proses operasi caesar. Kepada Annisa, dokter sudah menyampaikan bahwa anknya memiliki kelainan pada bagian kepalanya. Terlihat dari bentuk kepalanya yang berbeda dengan anak baru lahir pada umumnya. Pihak keluarga langsung disarankan dokter untuk membawa Faris ke Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik.


"Karena dalam empat hari dirawat di RS Adam Malik tidak ada penanganan, dan berhubung saya dan suami saya juga mau kerja, jadi kami bawa pulang ke rumah," katanya, Jumat (28/12) kepada Sejumlah awak media yang mengunjungi Faris.


Ia mengaku, saat mengetahui anaknya mengalami kelainan, dirinya sangat terkejut dan perasaannya bercampur baur. Ia merasa sangat sedih, dan sempat putus asa. Namun, ia menyadari bahwa ini ujian dari Tuhan. Nisa pun meminta kepada Tuhan untuk memberikannya kekuatan dan limpahan rezeki agar bisa merawat Faris.


"Awal hamilnya tidak ada merasakan apa-apa. Namun, ada yang berbeda, yaitu setiap memasuki senja (Maghrib) saya setiap hari menyapu dan sisiran di luar rumah dan kemudian saya juga tidur di luar rumah" jelasnya.


Nisa dan Siswanto yang tinggal rumah sewa saat ini terus memberikan perawatan terbaik buat Faris. Meski keduanya tidak memiliki pekerjaan yang layak. "Saya saat ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di perumahan, dan suami saya tidak bekerja lagi. Karena sudah sakit-sakitan juga, jadi lebih sering di rumah bersama Faris," terang Annisa.


Anak bungsu dari 9 bersaudara ini sempat dua kali akan dioperasi. Tetapi, jalan terbaik ia memutuskan untuk merawatnya di rumah saja. Karena ia tidak siap melihat kondisi Faris harus menjalani operasi. Kedatangan sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Ikatan Wartawan Online (IWO) Kota Medan menjenguk Fais memberi sedikit kebahagiaan bagi Annisa. Ia mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan bantuan yang diberikan untuk Fais.


Dalam kesempatan itu, Ketua IWO Medan, Erie Prasetyo mengatakan, sangat mengapresiasi inisiatif dan kepedulian teman-teman wartawan terhadap Fariz. Ini dikatakanya, merupakan aksi solidaritas dari sisi kemanusiaan.


"Mungkin lewat pemberitaan nantinya, teman-teman wartawan bisa menceritakan kisah Faris dan keluarga. Ini juga kewajiban bagi para insan pers. Saya juga sangat bangga kepada teman-teman wartawan yang antusias untuk mengungjungi dan membantu Faris. Beberapa rekan selain dari insan pers juga ikut dalam aksi kemanusian ini. Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang ikut membantu," kata Erie Prasetyo


Erie berharap, ada pihak yang mau membantu pengobatan untuk Faris. Karena Faris memang sangat membutuhkan pengobatan serius untuk kesembuhannya.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore