JawaPos Radar

Rupiah Diprediksi Terperosok di Level Rp 14.700

26/07/2018, 17:52 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Enrico Tanuwidjaja, Ekonom
Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja (kiri) dalam sebuah acara di Hotel Sheraton, Surabaya, Kamis (26/7). (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di level Rp 14.500 pada pembukaan Kamis (26/7) pagi. Namun penguatan tersebut diprediksi tidak bertahan lama.

Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan terus merosot. Bahkan diperkirakan, nilai tukar rupiah terdepresiasi di level Rp 14.700 per dolar AS hingga akhir 2018.

"Rupiah memang akan terus terdepresiasi karena tekanan eksternal. The Fed masih akan menaikkan suku bunga hingga dua kali. Lalu, faktor perang dagang (antara AS dan Tiongkok)," kata Enrico di Hotel Sheraton, Surabaya, Kamis (26/7).

Lalu, bagaimana dampaknya terhadap dunia usaha di Indonesia? Enrico menilai, dampak pelemahan rupiah akan dirasakan para pelaku ekspor dan impor. Karenanya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan para importir dan eksportir.

Menurut Enrico, eksportir jangan hanya melaporkan hasil ekspornya. Eksportir juga perlu membawa pulang dana asing (devisa). Sehingga dana asing itu mampu menutup defisit neraca berjalan (current account deficit). "Tapi saya belum tahu berapa devisa hasil ekspor yang masih di luar Indonesia. Karena memang belum direpatriasi," terang Enrico.

Kemudian dari sisi impor, para pengusaha perlu diversifikasi atau membina hubungan dagang dengan negara-negara lain. Contohnya, membina hubungan dagang dengan Tiongkok dan Thailand.

"Importir Indonesia perlu punya partner dagang lain yang prospektif dan saling complementary. Supaya nilai Rupiahnya stabil dan mampu mem-bypass dolar," paparnya.

meski diakuinya masih banyak importir yang memandang bahwa dolar masih menjadi mata uang utama. Padahal, Bank Indonesia punya banyak bilateral swap line dengan sejumlah negara.

Di sisi lain, Enrico berpendapat bahwa Bank Indonesia sebagai regulator juga perlu berperan untuk menjaga tingkat depresiasi rupiah. Salah satunya dengan menciptakan produk investasi.

Misalnya dengan penawaran kembali sertifikat bank Indonesia (SBI) selama 9 atau 12 bulan. Sehingga SBI akan mendorong investor untuk kembali menanamkan dananya. "Meski investasi yang dilakukan kemungkinan bukan jangka panjang. Karena yang terpenting adalah volatilitas atau kestabilan Rupiah," tutur Enrico.

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up