JawaPos Radar

Berdayakan 7 Janda, Bisnis Kopi Nurul Meluas ke Mancanegara

21/08/2018, 09:32 WIB | Editor: Ilham Safutra
Berdayakan 7 Janda, Bisnis Kopi Nurul Meluas ke Mancanegara
Nurul Inayati, pengusaha kopi yang berhasil memperdayakan 7 janda untuk menjalankan bisnisnya. (Ilham Safutra/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sepanjang jalan di Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat terdapat beberapa bangunan roboh. Di antara bangunan itu berdiri tenda kemah yang terbuat dari terpal. Tenda itu dijadikan sebagai penampungan sementara bagi warga setempat untuk berlindung diri, jika terjadi gempa.

Sejak tiga minggu terakhir warga di Pulau Lombok tidak bisa hidup tenang. Daerah terus "diteror" oleh gempa. Di salah satu ruas jalan di Desa Dopang, Kecamatan Gunung Sari terdapat gang kecil. Di balik gang itu ada rumah yang salah satu bidang rumah dindingnya sudah roboh. Atapnya baru diganti dengan seng. Dinding yang roboh itu baru saja dibersihkan, sehingga aktivitas penghuninya jelas terlihat dari luar.

"Silakan masuk. Maaf rumah ini kondisinya darurat. Akibat gempa minggu lalu kami belum bisa merapikan seperti semula," ujar Nurul Inayati, 32, menyambut kedatangan JawaPos.com.

Berdayakan 7 Janda, Bisnis Kopi Nurul Meluas ke Mancanegara
Nurul Inayati, pengusaha kopi yang berhasil memperdayakan 7 janda untuk menjalankan bisnisnya. (Ilham Safutra/JawaPos.com)

Senin (20/8) Nurul tetap disibukkan dengan pekerjaannya. Dia memeriksa kembali hasil kopi yang baru saja disangrai. Kopi tersebut itu dipindahkan ke bakul besar untuk dipastikan hasil sangrai itu tidak terlalu gosong atau kurang lama.

"Ini kopi harus dipastikan kadar sangrainya jangan terlalu gosong. Kalau dicium aromanya dipastikan tetap khas," imbuh Nurul sembari menciumi biji kopi arabika.

Janda satu anak ini kini menjadi tumpuan bagi sejumlah ibu-ibu rumah tangga dan perempuan singel parent di sekitar tempat tinggalnya. Bisnis kopi yang dilakoni sejak 2005 kini sudah mampu memberikan gairah hidup di Gunung Jati.

Umumnya bagi perempuan lansia dan janda-janda untuk mendapatkan penghasilan. Perempuan-perempuan tersebut sengaja diberdayakan sehingga memiliki penghasilan dari menggoreng dan menggiling kopi dari Nurul.

"Saya juga janda, saya mengerti bagaimana beratnya beban hidup yang dijalani para janda. Makanya ketika saya punya usaha para janda sekitar sini saya bantu untuk mendapatkan penghasilan," ungkap mantan karyawati perhotelan itu.

Kini perempuan itu memiliki tujuh karyawan tetap. Semuanya adalah para janda. Belum termasuk karyawan temporer yang umum perempuan lansia yang ikut membantu menyangrai kopi-kopi dari Nurul. Karyawan temporer di tempat usaha Nurul ini dimanfaatkan ketika permintaan sangat tinggi. Baik dari luar negeri atau lokal.

Bisnis "Kopi Lombok" milik Nurul sejak setahun terakhir sudah masuk ke pasar online. Dia memanfaatkan salah satu marketplace untuk media pemasaran. Bahkan dengan marketplace itu dia bisa mengirim kopi dengan skala besar ke sejumlah negara. Seperti Jerman, Tiongkok, Taiwan, Singapura, dan Malaysia. "Saat ini saya lagi proses administras untuk mendapatkan LPOM Halal untuk di Dubai," sambungnya.

Berhasilnya masuk pasar online ini semakin memudahkan dia mendapatkan pasar dan konsumen. Baik dari lokal maupun luar negeri. Setiap bulannya lulusan SMA yang sempat mengenyam pendidikan perkuliahan itu bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 8 juta. Jumlah itu sudah dipotong dengan gaji, upah, atau honor seluruh karyawannya.

Dikatakannya harga kopinya yang dijual di online lebih murah dibandingkan dengan offline. Terutama yang memesan lewat Shopee. Bahkan bagi konsumennya yang membeli dengan skala besar, Nurul rela menggratiskan ongkos kirim. Itu demi menjaga hubungan dengan pelanggan agar tidak pindah ke tempat lain.

"Saya berani gratiskan ongkir kalau pelanggan saya membeli dengan jumlah besar. Ongkir yang gratis itu sudah ditutupi dengan margin keuntungan. Intinya keuntungan saya kurangi asalkan dibeli dengan volume besar," ujar ibu satu putri itu. Umumnya kopi paling banyak gandrungi kopi yakni jenis arabika dan luwak. Kalau robusta hanya diminati pasar dalam negeri.

Tetap terjaganya bisnis kopi Nurul ini, karena dia turun langsung ke hutan untuk mencari biji kopi ke petani yang terdapat di Sembalun, Lombok Utara. Di sana dia memilih biji kopi secara langsung. "Cara ini saya lakukan agar kualitas kopinya tetap terjaga dan di kelas nomor satu," ungkapnya.

Menurut perempuan yang sudah memiliki hak paten terhadap merek "Kopi Lombok" itu menyerahkan sepenuhnya pemetikan kopi ke petani atau orang lain akan berpotensi kualitas bijinya akan turun. Sebab pemetik akan mengambil biji kopi saja dengan asal-asalan.

Setiap kilogramnya kopi milik Nurul dibanderol Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Harga itu dianggap oleh pebisnis kopi di pasar internasional masih tergolong murah.

(iil/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up